Rabu, 04 Desember 2013

Cerpen



Kau Bukan Untukku

Teet...Teet...Teet...
Bunyi bel masuk berhasil membuyarkan lamunanku pagi ini. Suasana sekolah yang bagaikan pasar membuatku tak betah berlama-lama menyeret diri dalam lingkup ruang sempit berukuran 8x7 meter ini. Ya, sebut saja ruang kelas. Hari ini, satu lagi guru tak bertanggung jawab yang mengumbar anak-anak didiknya berkaliaran bebas. Bukannya aku tak suka jika ada jam kosong, namun kegaduhan teman-temanku akan menjadi hal yang lebih buruk bagiku. Aku tak suka kebisingan.

“Eh, coba lihat! Siapa dia ya?”, teriak seseorang teman perempuanku yang berhasil memprovokasi hampir seluruh isi kelas berlari menuju jendela.

“Wow. Kereeeen !!”, sahut yang lain.

Kurasa kelas ini tak berbeda dengan mall yang sedang mengobral diskon 90%. Walaupun begitu aku tak menarik tubuhku seinchipun dari bangkuku. Baiklah, aku menyerah, aku lebih memilih pergi ke kantin. Entah perasaanku saja atau apa, sekolah ini lebih ramai dari biasanya. Saat kakiku berbelok menuju lorong, berbagai bisik-bisik gosip setema memasuki gendang telingaku.

“Kudengar ada dokter ganteng yang lagi praktek di sekolah. Uuuhhh kereeen. Katanya dia akan mulai praktek hari ini”, sahut seseorang makhluk yang ditanggapi dengan antusias oleh makhluk lain. 

‘Oh, jadi itu sebabnya’, batinku dan tetap  meneruskan langkahku. Aku yakin ada satu orang penyebab yang berhasil membuat sekolah ini menambah presentase kegaduhan yang mengerikan. Sudah kubilang, aku tak suka berisik. Kuhentikan langkah. Gendang telingaku menangkap beberapa suara langkah kaki menuju ke arahku. Benarkah? Saat ku balikkan badan, mataku terbelalak. Ada apa ini? Apakah ada demo di sekolah?. Eh, tunggu dulu, bukan demo, hanya ada beberapa orang yang merubungi seseorang pria yang...

Deg!

Tampan, tinggi, kulitnya yang putih. Berjalan santai bersama Wakil Kepala Sekolah dengan senyum ramah yang uhh... aku tak bisa mengungkapkannya. Kukerjapkan mataku perlahan. ‘Sempurna’, batinku berpendapat. Aku masih mempunyai kesadaran untuk segera minggir sebelum tergilas beberapa orang yang merubungi pria itu. Mungkin dia yang digosipkan siswi centil tadi.

“Dokter Duta, mari saya tunjukkan ruang kesehatan tempat Anda bekerja”, ucap Wakasek sekolahku.

“Oh, iya pak. Terima kasih”, jawabnya lembut.

‘Bingo! Tepat dugaan. Dokter praktek baru dan.... namanya Duta? ’, tak kusangka, bibirku menyunggingkan senyum. Apa ini? Setelah sadar sepenuhnya, kurasakan desah nafsku tak beraturan. Desiran darah mengalir begitu terasa di sekujur tubuh. Secepat inikah aku bisa menyukai seseorang? Entahlah. Tubuhnya yang tinggi semampai, jas putihnya semakin mempertontonkan kehadirannya sebagai dokter di sekolah ini, namun sayang, mata indahnya harus terhalangi dengan kacamata. Tak apa, dia semakin terlihat dewasa. Aku, Serin Rossiandra, siswi kelas XII SMA 1 Wira Dama, Jakarta  yang menyukai guru praktekku.
  

Seminggu berlalu.
Errmm... aku menggeliat menyadari beberapa sorot sinar matahari nakal menembus siluet gorden-gorden  jendela di kamarku. Haaah, pagi yang manis dan tenang. Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencoba mengumpulkan nyawaku sebelumnya, sampai...

“Riiiin! Udah siang! Kamu sekolah, nggak ?”.

Nah, datanglah genderang suara yang bisa disamakan dengan toa milik pak hansip kompleks sebelah.
“Riiiin! Banguuun!”, suara itu lagi.

“Iya-iya Kak, aku bangun!”, teriakku tak kalah keras. Aku tak akan terkejut jika kalian menyamakan rumahku dengan hutan belantara Kalimantan. Tapi memang inilah yang terjadi tiap hari. Diawali dengan teriakan penuh semangat ’45 dari kakakku, dan mulailah aktivitas pagi yang selalu sama tiap harinya. Rasanya aku merindukan hari liburku tersayang. ‘Tunggu, hari libur? Tidak sekolah? Tidak bertemu dengannya? Oh tidak!’. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan senyum. Kini aku punya alasan untuk berangkat sekolah tanpa ada rasa ogah-ogahan untuk menyeret kakiku menuju tempat yang telah genap 2 tahun kudatangi tiap hari kecuali saat hari-hari libur. Dia, entahlah, aku hanya merasa dia seperti candu yang mengikatku erat dalam pesonanya yang natural, oh dan juga keren. Sudahlah, memikirkannya akan menghabiskan waktuku seharian. Aku bermaksud melangkahkan kaki menuju kamar mandi seperti biasa. Baiklah, mari sekolah!

Ku langkahkan kaki, berjalan santai menuruni anak tangga. Ini sudah jam 06.40, namun aku masih dengan santainya menuju ruang makan menghampiri 3 keluargaku yang lain. Ayah, Ibu dan tentu saja kakakku yang cerewet.

“Pagi!”, sapaku menggema di setiap sudut ruangan.

“Hm”, jawab Ayahku

“Pagi Sayaang”, kali ini suara Ibu. 

“Tumben, semangat banget. Biasanya berangkat sekolah, kaki diseret. Mencurigakan”, kata kakakku memincingkan mata dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Biarin, sirik aja”, jawabku ketus. Jangan khawatir, aku dan kakakku memang seperti ini dari kecil. Bukan seperti kucing dan anjing, lebih tepatnya seperti singa dan macan, sama-sama sangar tapi tetap saja berbeda. Sebenarnya kakakku memiliki sisi yang  halus. Seorang wanita cantik nan berkelas. Seorang wanita mandiri pula. Iri memang, tapi aku tetaplah adik yang menyayangi kakaknya. Dia kakakku, sebut saja namanya Lisa.

“Rin, cepat habisin rotinya, udah hampir jam 7!”, sahut ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya-iya Bu”, jawabku malas-malasan.

“Ohya, Sabtu depan kakakmu kan bertunangan, jadi pulanglah cepat, bantu ibu mempersiapkan pesta kecil-kecilan”, kata ibu ku tanpa tedeng aling-aling.

“Haaa?? Tunangan?”, jawabku hampir menyemburkan susu yang baru saja ingin ku telan.

“Iya, tunangan”, jawab ibu tanpa rasa bersalah. 

“Kapan pacarannya? Nggak pernah datang ke rumah tuh!”, tuduhku.

“Katanya mau datang sekalian pas mau melamar kakakmu”, jawab ibu lagi. Kulihat kakak hanya senyum-senyum sendiri tak jelas. ‘Ada apa dengan kakakku satu ini? Dasar.’ Batinku.

“Baiklah Bu, akan aku usahakan. Tapi, ngomong-ngomong, siapa lelaki malang  yang mau dengan kakak?”, tanyaku asal.

Duaakkk!

“Aduhh! Sakit tau!”, teriakku  sambil memegangi kepala.

“Salah siapa bilang seenak jidat? Aku cantik kok, baik, supel, ramah dan.... 

“Cerewet, galak, tomboy dan mirip kok sama nenek lampir”, serobotku memotong perkataannya.
“Awas kau ya!”

Sreett !

Aku segera menghindar saat kakakku akan melayangkan satu jitakan lagi ke atas kepalaku. Dengan cepat kuraih tas dan berlari menuju pintu. 

“Hahaha, lain kali kak! Ayah, Ibu, aku berangkat!”, pamitku tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah. 


Tanggal 31 Oktober 2013. Tepat hari ini kakakku akan bertunangan, dan kini aku masih bergelut dengan jadwal-jadwal tugas dan proposal yang menumpuk di depan mataku. Sebagai seorang Sekretaris OSIS, memang inilah kewajibanku. Tapi bukankah aku sudah berjanji pada ibu untuk pulang cepat? Kuyakin, di rumah semuanya pasti sedang sibuk. Mengingat itu, tak kuperduliakan lagi semua tugas ini, dengan langkah cepat ku raih tas dan bergegas pulang.

“Aku pulang”, seruku saat sampai di depan pintu rumah.

“Oh, kau sudah pulang sayang, tolong bantu ibu membereskan buket bunga itu!”, perintah ibu langsung. 

“Baiklah”, jawabku sekenanya dan langsung menyambar puluhan bunga yang berserakan di atas meja.

Suasana tak begitu ramai saat pertunangan kakakku akan dimulai dan tinggal menunggu si calon pria. Tiba-tiba gemuruh suara beberapa mobil terdengar dari luar rumah. Nah, ini dia yang di tunggu-tunggu. Aku dan semua keluarga bergegas menuju pintu. Ibu begitu gembira menyambut calon menantunya. Beberapa orang mulai keluar dari mobil-mobil mewah itu.

“Itu dia Bu”, kata kakakku memberi tahu ibu. Matanya tertuju pada mobil Ferrari hitam yang terparkir tepat di depan rumah.

Seketika, mataku terfokus pada mobil itu. Seseorang muncul dengan setelan tuxedo hitam yang berkelas. Sepertinya ada yang salah. Dan Benar!

DEG!

Seketika itu, kurasa gemuruh mulai merajai semua yang ada di fikiranku saat ini. Darahku berdesir seakan aku tak memiliki kendali lagi atas tubuh ini. Dalam sekejap kurasakam kakiku melemas. Ingin sekali aku menangis saat itu juga. Aku ingin berlari, kemanapun, dimana aku bisa menjadikan semua ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang benar-benar buruk, yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Dia... ya, itu dia. Dia yang selalu gagah dengan segala sesuatu yang melekat di tubuhnya. Kini dia kenakan kemeja ungu muda kasual dengan balutan Jas Armani mahal. Di tetap tampan dengan gaya rambutnya yang acak-acakan. Rambut mencuat ke belakang dengan warna hitam legam, selaras dengan mata hitam elangnya, namun kini tanpa terbingkai dengan kacamatanya. Ya, mata itu, mata yang mampu membuatku berhenti bernafas sejenak. Aku belum bisa menerima semua ini. Aku masih sangat berharap semua ini tidak nyata dan tak akan pernah jadi nyata. Kini dia berjalan perlahan menuju ke arahku. 

‘Kearahku?’, batinku tak yakin.

‘Tidak ! Sadarlah Rin !’, teriak batinku tersadar. 

‘Dia tunangan kakakmu!! Kau tak punya hak apapun sekarang!’, aku berjalan perlahan menghindari kerumunan tamu-tamu yang berjejal di pintu rumah. Aku tak kuasa lagi, aku berlari dan membanting pintu kamar. Untunglah tak ada yang mendengar, semua terlalu sibuk dengan dua sejoli yang akan meresmikan hubungan mereka dalam sebuah pertunangan. Air mata tak bisa kubendungkan lagi, aku menangis dalam diam, berusaha tegar dan bergembira atas pertunangan kakakku. 

Acara tukar cincin telah berakhir satu jam yang lalu.
“Hanya tidak enak badan Bu, mungkin terlalu lelah”, elakku saat Ibu mencoba bertanya kenapa aku tak melihat prosesi pertunangan kakakku. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Aku tak mau jika air mata ini akan mengalir tanpa sadar saat aku mencoba menatap wajahnya.

“Oh, Serin ya?”, aku terlonjak kaget saat suara itu menyapu gendang telingaku. Aku hafal, siapa pemilik suara itu.

“Salam kenal ya, aku Duta. Sebenarnya aku sudah mengenalmu karena kau salah satu muridku. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang baik”, ucapnya panjang lebar. Hati ini berdebar, sebuah harapan yang indah. 

“Eh? Oh, iya Pak. Oh maaf, Kak”, jawabku gelagapan. Dia hanya tersenyum, sangat manis dan menyejukkan. Berhenti! Jangan membuatku berharap lagi padamu. 

‘Apa kau lupa cincin yang bertengger manis di jari manis tangan kanannya? Seharusnya kau membuang rasa pada pria itu. Karena kau tahu, menyukai orang yang menjadi tunangan kakakmu adalah harapan yang sia-sia Rin!’,makiku dalam hati. Seketika itu juga, aku tak sanggup menatap matanya. Aku mohon pamit untuk istirahat sejenak, dan dia pun memaklumi. Mungkin tidur akan membuatku  dapat melupakan sejenak apa yang baru saja kualami. Sesuatu yang telah berhasil merobohkan semua dinding pertahanan dalam diriku. Semuanya runtuh, membuatku lemah seperti tak ada hasrat untuk hidup. Aku mulai memejamkan mata, dan berharap mendapatkan kebahagiaan walau hanya dalam mimpi.


Sebulan waktu yang cukup lama setelah peristiwa yamg masuk dalam sejarah penting dalam hidupku. Waktu sebulan belum cukup untukku menghapus semua itu. Mungkin aku akan mulai mencoba menerima keadaan ini.  Aku gelimpungan memikirkan semua ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bagai buah simalakama yang selalu salah dalam setiap apapun yang dilakukan. Ya, sangat menyedihkan. Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta,namun dia yang telah berhasil memasung hati ini hanya untuk menatap satu titik fokus padanya. Jika ada penghargaan untuk pesona tebaik yang dapat membuat seseorang leleh dalam satu kali tatap, maka akan aku berikan kepadanya. Wow, hebat bukan? Huh, itulah sebabnya bukan hal yang mudah untuk menghapusnya dalam hatiku. Terkadang aku mengutuk diriku sendiri  yang terlalu melankolis, namun memang itu yang kurasakan sekarang.

“Aarrgghhh !!”, teriakku frustasi.

Untunglah kamarku dilengkapi peredam suara,atau aku bisa dianggap cocok menjadi salah satu pasien Ayah. Ya, ayahku seorang dokter jiwa. Cukup, jangan tanya soal itu. Aku menghela nafas berat. Mungkin aku butuh hiburan untuk melepas beban ini. Beban? Yah, beban yang bahkan tak sanggup kuselesaikan sendiri. Bolehkah rasa ini tetap tumbuh untuknya? Atau mungkin aku harus mencati titik fokus lain karena pada akhirnya aku sadar, aku hanya kan berpusar pada satu pusat, yaitu dia. Dia, yang bahkan tidak akan menyadari apa yang aku rasakan. Karena telah ada kakakku yang menjadi masa depannya kelak. Tapi bagaimana dengan hatiku?

“Kak. Maafkan aku..”, ungkapku lirih.

Butiran bening mulai membasahi kedua pipiku. Bagiku, kini semuanya terasa kelam untuk dapat menerima kenyataan. Namun, aku sudah memutuskan apa yang harus aku lakukan.

“Ayah, Ibu, Kak, aku ingin kuliah di Jogja dan aku akan tinggal bersama bulek disana”, ucapku tanpa ragu saat kami tengah berkumpul di ruang keluarga. Semua tampak terkejut dengan keputusanku, terutama ibu, Beliau terlihat paling tak rela. Aku sudah beranjak dewasa, aku ingin memilih dan melakukan apa yang sudah kuputuskan. Dan akhirnya tercapailah keinginanku.

Benar, alasan pertama aku ingin kuliah di Jogja adalah menghindar dari sosok yang kini selalu menghantuiku dengan harapan-harapan kosong. Aku tak mau membahasnya lagi. Alasan kedua, bukankah akan lebih mudah menghapus memori tentangnya, jika aku berada di lingkungan yang baru? Dan ketiga, aku akan mencoba membuka hati ini untuk orang lain. Seseorang yang mampu membuatku merasa bahwa kebahagiaan bisa kita cari dimanapun dan kapanpun. Dan kurasa di sana akan menyenangkan. Seingatku saat berlibur di Jogja, tak sedikit pria tampan di sana. 

“Hmm, boleh juga”, ucapku ngawur. Bibirku membentuk seulas senyum. Semoga ini yang terbaik. Amin.



oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoTAMAToOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

0 komentar:

Posting Komentar