Kau Bukan Untukku
Teet...Teet...Teet...
Bunyi bel masuk berhasil membuyarkan lamunanku pagi
ini. Suasana sekolah yang bagaikan pasar membuatku tak betah berlama-lama
menyeret diri dalam lingkup ruang sempit berukuran 8x7 meter ini. Ya, sebut
saja ruang kelas. Hari ini, satu lagi guru tak bertanggung jawab yang mengumbar anak-anak didiknya berkaliaran bebas.
Bukannya aku tak suka jika ada jam kosong, namun kegaduhan teman-temanku akan
menjadi hal yang lebih buruk bagiku. Aku tak suka kebisingan.
“Eh, coba lihat! Siapa dia ya?”, teriak seseorang
teman perempuanku yang berhasil memprovokasi hampir seluruh isi kelas berlari
menuju jendela.
“Wow. Kereeeen
!!”, sahut yang lain.
Kurasa kelas ini tak berbeda dengan mall yang sedang
mengobral diskon 90%. Walaupun begitu aku tak menarik tubuhku seinchipun dari
bangkuku. Baiklah, aku menyerah, aku lebih memilih pergi ke kantin. Entah
perasaanku saja atau apa, sekolah ini lebih ramai dari biasanya. Saat kakiku
berbelok menuju lorong, berbagai bisik-bisik gosip setema memasuki gendang
telingaku.
“Kudengar ada dokter ganteng yang lagi praktek di
sekolah. Uuuhhh kereeen. Katanya dia
akan mulai praktek hari ini”, sahut seseorang makhluk yang ditanggapi dengan
antusias oleh makhluk lain.
‘Oh, jadi itu sebabnya’, batinku dan tetap meneruskan langkahku. Aku yakin ada satu
orang penyebab yang berhasil membuat sekolah ini menambah presentase kegaduhan
yang mengerikan. Sudah kubilang, aku tak suka berisik. Kuhentikan langkah.
Gendang telingaku menangkap beberapa suara langkah kaki menuju ke arahku.
Benarkah? Saat ku balikkan badan, mataku terbelalak. Ada apa ini? Apakah ada
demo di sekolah?. Eh, tunggu dulu, bukan demo, hanya ada beberapa orang yang
merubungi seseorang pria yang...
Deg!
Tampan, tinggi, kulitnya yang putih. Berjalan santai
bersama Wakil Kepala Sekolah dengan senyum ramah yang uhh... aku tak bisa
mengungkapkannya. Kukerjapkan mataku perlahan. ‘Sempurna’, batinku berpendapat.
Aku masih mempunyai kesadaran untuk segera minggir sebelum tergilas beberapa
orang yang merubungi pria itu. Mungkin dia yang digosipkan siswi centil tadi.
“Dokter Duta, mari saya tunjukkan ruang kesehatan
tempat Anda bekerja”, ucap Wakasek sekolahku.
“Oh, iya pak. Terima kasih”, jawabnya lembut.
‘Bingo! Tepat dugaan. Dokter
praktek baru dan.... namanya Duta? ’, tak kusangka, bibirku menyunggingkan
senyum. Apa ini? Setelah sadar
sepenuhnya, kurasakan desah nafsku tak beraturan. Desiran darah mengalir begitu
terasa di sekujur tubuh. Secepat inikah aku bisa menyukai seseorang? Entahlah.
Tubuhnya yang tinggi semampai, jas putihnya semakin mempertontonkan
kehadirannya sebagai dokter di sekolah ini, namun sayang, mata indahnya harus
terhalangi dengan kacamata. Tak apa, dia semakin terlihat dewasa. Aku, Serin
Rossiandra, siswi kelas XII SMA 1 Wira Dama, Jakarta yang menyukai guru praktekku.
Seminggu
berlalu.
Errmm...
aku menggeliat menyadari beberapa sorot sinar matahari nakal menembus siluet
gorden-gorden jendela di kamarku. Haaah,
pagi yang manis dan tenang. Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencoba mengumpulkan
nyawaku sebelumnya, sampai...
“Riiiin!
Udah siang! Kamu sekolah, nggak ?”.
Nah,
datanglah genderang suara yang bisa disamakan dengan toa milik pak hansip
kompleks sebelah.
“Riiiin!
Banguuun!”, suara itu lagi.
“Iya-iya
Kak, aku bangun!”, teriakku tak kalah keras. Aku tak akan terkejut jika kalian
menyamakan rumahku dengan hutan belantara Kalimantan. Tapi memang inilah yang
terjadi tiap hari. Diawali dengan teriakan penuh semangat ’45 dari kakakku, dan
mulailah aktivitas pagi yang selalu sama tiap harinya. Rasanya aku merindukan
hari liburku tersayang. ‘Tunggu, hari libur? Tidak sekolah? Tidak bertemu
dengannya? Oh tidak!’. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan senyum. Kini aku
punya alasan untuk berangkat sekolah tanpa ada rasa ogah-ogahan untuk menyeret kakiku menuju tempat yang telah genap 2
tahun kudatangi tiap hari kecuali saat hari-hari libur. Dia, entahlah, aku
hanya merasa dia seperti candu yang mengikatku erat dalam pesonanya yang
natural, oh dan juga keren. Sudahlah,
memikirkannya akan menghabiskan waktuku seharian. Aku bermaksud melangkahkan
kaki menuju kamar mandi seperti biasa. Baiklah, mari sekolah!
Ku
langkahkan kaki, berjalan santai menuruni anak tangga. Ini sudah jam 06.40, namun
aku masih dengan santainya menuju ruang makan menghampiri 3 keluargaku yang
lain. Ayah, Ibu dan tentu saja kakakku yang cerewet.
“Pagi!”,
sapaku menggema di setiap sudut ruangan.
“Hm”,
jawab Ayahku
“Pagi
Sayaang”, kali ini suara Ibu.
“Tumben,
semangat banget. Biasanya berangkat sekolah, kaki diseret. Mencurigakan”, kata
kakakku memincingkan mata dengan ekspresi yang dibuat-buat.
“Biarin,
sirik aja”, jawabku ketus. Jangan khawatir, aku dan kakakku memang seperti ini
dari kecil. Bukan seperti kucing dan anjing, lebih tepatnya seperti singa dan
macan, sama-sama sangar tapi tetap
saja berbeda. Sebenarnya kakakku memiliki sisi yang halus. Seorang wanita cantik nan berkelas.
Seorang wanita mandiri pula. Iri memang, tapi aku tetaplah adik yang menyayangi
kakaknya. Dia kakakku, sebut saja namanya Lisa.
“Rin,
cepat habisin rotinya, udah hampir jam 7!”, sahut ibu membuyarkan lamunanku.
“Iya-iya
Bu”, jawabku malas-malasan.
“Ohya,
Sabtu depan kakakmu kan bertunangan, jadi pulanglah cepat, bantu ibu
mempersiapkan pesta kecil-kecilan”, kata ibu ku tanpa tedeng aling-aling.
“Haaa??
Tunangan?”, jawabku hampir menyemburkan susu yang baru saja ingin ku telan.
“Iya,
tunangan”, jawab ibu tanpa rasa bersalah.
“Kapan
pacarannya? Nggak pernah datang ke
rumah tuh!”, tuduhku.
“Katanya
mau datang sekalian pas mau melamar kakakmu”, jawab ibu lagi. Kulihat kakak
hanya senyum-senyum sendiri tak jelas. ‘Ada apa dengan kakakku satu ini?
Dasar.’ Batinku.
“Baiklah
Bu, akan aku usahakan. Tapi, ngomong-ngomong, siapa lelaki malang yang mau dengan kakak?”, tanyaku asal.
Duaakkk!
“Aduhh! Sakit tau!”, teriakku sambil memegangi kepala.
“Salah siapa bilang seenak jidat? Aku cantik kok,
baik, supel, ramah dan.... “
“Cerewet, galak, tomboy dan mirip kok sama nenek lampir”,
serobotku memotong perkataannya.
“Awas kau ya!”
Sreett
!
Aku segera menghindar saat kakakku akan melayangkan
satu jitakan lagi ke atas kepalaku. Dengan cepat kuraih tas dan berlari menuju
pintu.
“Hahaha, lain kali kak!
Ayah, Ibu, aku berangkat!”, pamitku tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah.
Tanggal 31 Oktober 2013. Tepat hari ini kakakku akan
bertunangan, dan kini aku masih bergelut dengan jadwal-jadwal tugas dan
proposal yang menumpuk di depan mataku. Sebagai seorang Sekretaris OSIS, memang
inilah kewajibanku. Tapi bukankah aku sudah berjanji pada ibu untuk pulang
cepat? Kuyakin, di rumah semuanya pasti sedang sibuk. Mengingat itu, tak
kuperduliakan lagi semua tugas ini, dengan langkah cepat ku raih tas dan
bergegas pulang.
“Aku pulang”, seruku saat sampai di depan pintu
rumah.
“Oh, kau sudah pulang sayang, tolong bantu ibu
membereskan buket bunga itu!”, perintah ibu langsung.
“Baiklah”, jawabku sekenanya dan langsung menyambar
puluhan bunga yang berserakan di atas meja.
Suasana tak begitu ramai saat pertunangan kakakku
akan dimulai dan tinggal menunggu si calon pria. Tiba-tiba gemuruh suara
beberapa mobil terdengar dari luar rumah. Nah, ini dia yang di tunggu-tunggu.
Aku dan semua keluarga bergegas menuju pintu. Ibu begitu gembira menyambut calon
menantunya. Beberapa orang mulai keluar dari mobil-mobil mewah itu.
“Itu dia Bu”, kata kakakku memberi tahu ibu. Matanya
tertuju pada mobil Ferrari hitam yang terparkir tepat di depan rumah.
Seketika, mataku terfokus pada mobil itu. Seseorang
muncul dengan setelan tuxedo hitam yang berkelas. Sepertinya ada yang salah.
Dan Benar!
DEG!
Seketika
itu, kurasa gemuruh mulai merajai semua yang ada di fikiranku saat ini. Darahku
berdesir seakan aku tak memiliki kendali lagi atas tubuh ini. Dalam sekejap
kurasakam kakiku melemas. Ingin sekali aku menangis saat itu juga. Aku ingin
berlari, kemanapun, dimana aku bisa menjadikan semua ini hanya sebuah mimpi.
Mimpi yang benar-benar buruk, yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Dia...
ya, itu dia. Dia yang selalu gagah dengan segala sesuatu yang melekat di
tubuhnya. Kini dia kenakan kemeja ungu muda kasual dengan balutan Jas Armani
mahal. Di tetap tampan dengan gaya rambutnya yang acak-acakan. Rambut mencuat
ke belakang dengan warna hitam legam, selaras dengan mata hitam elangnya, namun
kini tanpa terbingkai dengan kacamatanya. Ya, mata itu, mata yang mampu
membuatku berhenti bernafas sejenak. Aku belum bisa menerima semua ini. Aku masih
sangat berharap semua ini tidak nyata dan tak akan pernah jadi nyata. Kini dia
berjalan perlahan menuju ke arahku.
‘Kearahku?’,
batinku tak yakin.
‘Tidak
! Sadarlah Rin !’, teriak batinku tersadar.
‘Dia
tunangan kakakmu!! Kau tak punya hak apapun sekarang!’, aku berjalan perlahan
menghindari kerumunan tamu-tamu yang berjejal di pintu rumah. Aku tak kuasa
lagi, aku berlari dan membanting pintu kamar. Untunglah tak ada yang mendengar,
semua terlalu sibuk dengan dua sejoli yang akan meresmikan hubungan mereka
dalam sebuah pertunangan. Air mata tak bisa kubendungkan lagi, aku menangis
dalam diam, berusaha tegar dan bergembira atas pertunangan kakakku.
Acara
tukar cincin telah berakhir satu jam yang lalu.
“Hanya
tidak enak badan Bu, mungkin terlalu lelah”, elakku saat Ibu mencoba bertanya
kenapa aku tak melihat prosesi pertunangan kakakku. Aku benar-benar tidak
sanggup melihatnya. Aku tak mau jika air mata ini akan mengalir tanpa sadar
saat aku mencoba menatap wajahnya.
“Oh,
Serin ya?”, aku terlonjak kaget saat suara itu menyapu gendang telingaku. Aku
hafal, siapa pemilik suara itu.
“Salam
kenal ya, aku Duta. Sebenarnya aku sudah mengenalmu karena kau salah satu
muridku. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang baik”, ucapnya panjang lebar. Hati
ini berdebar, sebuah harapan yang indah.
“Eh?
Oh, iya Pak. Oh maaf, Kak”, jawabku gelagapan. Dia hanya tersenyum, sangat
manis dan menyejukkan. Berhenti! Jangan membuatku berharap lagi padamu.
‘Apa kau lupa cincin yang
bertengger manis di jari manis tangan kanannya? Seharusnya kau membuang rasa
pada pria itu. Karena kau tahu, menyukai orang yang menjadi tunangan kakakmu
adalah harapan yang sia-sia Rin!’,makiku dalam hati. Seketika itu juga, aku tak
sanggup menatap matanya. Aku mohon pamit untuk istirahat sejenak, dan dia pun
memaklumi. Mungkin tidur akan membuatku
dapat melupakan sejenak apa yang baru saja kualami. Sesuatu yang telah
berhasil merobohkan semua dinding pertahanan dalam diriku. Semuanya runtuh,
membuatku lemah seperti tak ada hasrat untuk hidup. Aku mulai memejamkan mata,
dan berharap mendapatkan kebahagiaan walau hanya dalam mimpi.
Sebulan
waktu yang cukup lama setelah peristiwa yamg masuk dalam sejarah penting dalam
hidupku. Waktu sebulan belum cukup untukku menghapus semua itu. Mungkin aku
akan mulai mencoba menerima keadaan ini. Aku gelimpungan memikirkan semua ini. Aku tak
tahu apa yang harus kulakukan. Bagai buah simalakama yang selalu salah dalam
setiap apapun yang dilakukan. Ya, sangat menyedihkan. Aku bukanlah orang yang
mudah jatuh cinta,namun dia yang telah berhasil memasung hati ini hanya untuk
menatap satu titik fokus padanya. Jika ada penghargaan untuk pesona tebaik yang
dapat membuat seseorang leleh dalam satu kali tatap, maka akan aku berikan
kepadanya. Wow, hebat bukan? Huh, itulah sebabnya bukan hal yang mudah untuk
menghapusnya dalam hatiku. Terkadang aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu melankolis, namun memang itu yang kurasakan sekarang.
“Aarrgghhh
!!”, teriakku frustasi.
Untunglah
kamarku dilengkapi peredam suara,atau aku bisa dianggap cocok menjadi salah
satu pasien Ayah. Ya, ayahku seorang dokter jiwa. Cukup, jangan tanya soal itu.
Aku menghela nafas berat. Mungkin aku butuh hiburan untuk melepas beban ini.
Beban? Yah, beban yang bahkan tak sanggup kuselesaikan sendiri. Bolehkah rasa
ini tetap tumbuh untuknya? Atau mungkin aku harus mencati titik fokus lain
karena pada akhirnya aku sadar, aku hanya kan berpusar pada satu pusat, yaitu
dia. Dia, yang bahkan tidak akan menyadari apa yang aku rasakan. Karena telah
ada kakakku yang menjadi masa depannya kelak. Tapi bagaimana dengan hatiku?
“Kak.
Maafkan aku..”, ungkapku lirih.
Butiran
bening mulai membasahi kedua pipiku. Bagiku, kini semuanya terasa kelam untuk
dapat menerima kenyataan. Namun, aku sudah memutuskan apa yang harus aku
lakukan.
“Ayah,
Ibu, Kak, aku ingin kuliah di Jogja dan aku akan tinggal bersama bulek disana”, ucapku tanpa ragu saat
kami tengah berkumpul di ruang keluarga. Semua tampak terkejut dengan
keputusanku, terutama ibu, Beliau terlihat paling tak rela. Aku sudah beranjak
dewasa, aku ingin memilih dan melakukan apa yang sudah kuputuskan. Dan akhirnya
tercapailah keinginanku.
Benar,
alasan pertama aku ingin kuliah di Jogja adalah menghindar dari sosok yang kini
selalu menghantuiku dengan harapan-harapan kosong. Aku tak mau membahasnya
lagi. Alasan kedua, bukankah akan lebih mudah menghapus memori tentangnya, jika
aku berada di lingkungan yang baru? Dan ketiga, aku akan mencoba membuka hati
ini untuk orang lain. Seseorang yang mampu membuatku merasa bahwa kebahagiaan
bisa kita cari dimanapun dan kapanpun. Dan kurasa di sana akan menyenangkan.
Seingatku saat berlibur di Jogja, tak sedikit pria tampan di sana.
“Hmm,
boleh juga”, ucapku ngawur. Bibirku membentuk seulas senyum. Semoga ini yang
terbaik. Amin.
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoTAMAToOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo
