Rabu, 04 Desember 2013

Cerpen



Kau Bukan Untukku

Teet...Teet...Teet...
Bunyi bel masuk berhasil membuyarkan lamunanku pagi ini. Suasana sekolah yang bagaikan pasar membuatku tak betah berlama-lama menyeret diri dalam lingkup ruang sempit berukuran 8x7 meter ini. Ya, sebut saja ruang kelas. Hari ini, satu lagi guru tak bertanggung jawab yang mengumbar anak-anak didiknya berkaliaran bebas. Bukannya aku tak suka jika ada jam kosong, namun kegaduhan teman-temanku akan menjadi hal yang lebih buruk bagiku. Aku tak suka kebisingan.

“Eh, coba lihat! Siapa dia ya?”, teriak seseorang teman perempuanku yang berhasil memprovokasi hampir seluruh isi kelas berlari menuju jendela.

“Wow. Kereeeen !!”, sahut yang lain.

Kurasa kelas ini tak berbeda dengan mall yang sedang mengobral diskon 90%. Walaupun begitu aku tak menarik tubuhku seinchipun dari bangkuku. Baiklah, aku menyerah, aku lebih memilih pergi ke kantin. Entah perasaanku saja atau apa, sekolah ini lebih ramai dari biasanya. Saat kakiku berbelok menuju lorong, berbagai bisik-bisik gosip setema memasuki gendang telingaku.

“Kudengar ada dokter ganteng yang lagi praktek di sekolah. Uuuhhh kereeen. Katanya dia akan mulai praktek hari ini”, sahut seseorang makhluk yang ditanggapi dengan antusias oleh makhluk lain. 

‘Oh, jadi itu sebabnya’, batinku dan tetap  meneruskan langkahku. Aku yakin ada satu orang penyebab yang berhasil membuat sekolah ini menambah presentase kegaduhan yang mengerikan. Sudah kubilang, aku tak suka berisik. Kuhentikan langkah. Gendang telingaku menangkap beberapa suara langkah kaki menuju ke arahku. Benarkah? Saat ku balikkan badan, mataku terbelalak. Ada apa ini? Apakah ada demo di sekolah?. Eh, tunggu dulu, bukan demo, hanya ada beberapa orang yang merubungi seseorang pria yang...

Deg!

Tampan, tinggi, kulitnya yang putih. Berjalan santai bersama Wakil Kepala Sekolah dengan senyum ramah yang uhh... aku tak bisa mengungkapkannya. Kukerjapkan mataku perlahan. ‘Sempurna’, batinku berpendapat. Aku masih mempunyai kesadaran untuk segera minggir sebelum tergilas beberapa orang yang merubungi pria itu. Mungkin dia yang digosipkan siswi centil tadi.

“Dokter Duta, mari saya tunjukkan ruang kesehatan tempat Anda bekerja”, ucap Wakasek sekolahku.

“Oh, iya pak. Terima kasih”, jawabnya lembut.

‘Bingo! Tepat dugaan. Dokter praktek baru dan.... namanya Duta? ’, tak kusangka, bibirku menyunggingkan senyum. Apa ini? Setelah sadar sepenuhnya, kurasakan desah nafsku tak beraturan. Desiran darah mengalir begitu terasa di sekujur tubuh. Secepat inikah aku bisa menyukai seseorang? Entahlah. Tubuhnya yang tinggi semampai, jas putihnya semakin mempertontonkan kehadirannya sebagai dokter di sekolah ini, namun sayang, mata indahnya harus terhalangi dengan kacamata. Tak apa, dia semakin terlihat dewasa. Aku, Serin Rossiandra, siswi kelas XII SMA 1 Wira Dama, Jakarta  yang menyukai guru praktekku.
  

Seminggu berlalu.
Errmm... aku menggeliat menyadari beberapa sorot sinar matahari nakal menembus siluet gorden-gorden  jendela di kamarku. Haaah, pagi yang manis dan tenang. Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencoba mengumpulkan nyawaku sebelumnya, sampai...

“Riiiin! Udah siang! Kamu sekolah, nggak ?”.

Nah, datanglah genderang suara yang bisa disamakan dengan toa milik pak hansip kompleks sebelah.
“Riiiin! Banguuun!”, suara itu lagi.

“Iya-iya Kak, aku bangun!”, teriakku tak kalah keras. Aku tak akan terkejut jika kalian menyamakan rumahku dengan hutan belantara Kalimantan. Tapi memang inilah yang terjadi tiap hari. Diawali dengan teriakan penuh semangat ’45 dari kakakku, dan mulailah aktivitas pagi yang selalu sama tiap harinya. Rasanya aku merindukan hari liburku tersayang. ‘Tunggu, hari libur? Tidak sekolah? Tidak bertemu dengannya? Oh tidak!’. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan senyum. Kini aku punya alasan untuk berangkat sekolah tanpa ada rasa ogah-ogahan untuk menyeret kakiku menuju tempat yang telah genap 2 tahun kudatangi tiap hari kecuali saat hari-hari libur. Dia, entahlah, aku hanya merasa dia seperti candu yang mengikatku erat dalam pesonanya yang natural, oh dan juga keren. Sudahlah, memikirkannya akan menghabiskan waktuku seharian. Aku bermaksud melangkahkan kaki menuju kamar mandi seperti biasa. Baiklah, mari sekolah!

Ku langkahkan kaki, berjalan santai menuruni anak tangga. Ini sudah jam 06.40, namun aku masih dengan santainya menuju ruang makan menghampiri 3 keluargaku yang lain. Ayah, Ibu dan tentu saja kakakku yang cerewet.

“Pagi!”, sapaku menggema di setiap sudut ruangan.

“Hm”, jawab Ayahku

“Pagi Sayaang”, kali ini suara Ibu. 

“Tumben, semangat banget. Biasanya berangkat sekolah, kaki diseret. Mencurigakan”, kata kakakku memincingkan mata dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Biarin, sirik aja”, jawabku ketus. Jangan khawatir, aku dan kakakku memang seperti ini dari kecil. Bukan seperti kucing dan anjing, lebih tepatnya seperti singa dan macan, sama-sama sangar tapi tetap saja berbeda. Sebenarnya kakakku memiliki sisi yang  halus. Seorang wanita cantik nan berkelas. Seorang wanita mandiri pula. Iri memang, tapi aku tetaplah adik yang menyayangi kakaknya. Dia kakakku, sebut saja namanya Lisa.

“Rin, cepat habisin rotinya, udah hampir jam 7!”, sahut ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya-iya Bu”, jawabku malas-malasan.

“Ohya, Sabtu depan kakakmu kan bertunangan, jadi pulanglah cepat, bantu ibu mempersiapkan pesta kecil-kecilan”, kata ibu ku tanpa tedeng aling-aling.

“Haaa?? Tunangan?”, jawabku hampir menyemburkan susu yang baru saja ingin ku telan.

“Iya, tunangan”, jawab ibu tanpa rasa bersalah. 

“Kapan pacarannya? Nggak pernah datang ke rumah tuh!”, tuduhku.

“Katanya mau datang sekalian pas mau melamar kakakmu”, jawab ibu lagi. Kulihat kakak hanya senyum-senyum sendiri tak jelas. ‘Ada apa dengan kakakku satu ini? Dasar.’ Batinku.

“Baiklah Bu, akan aku usahakan. Tapi, ngomong-ngomong, siapa lelaki malang  yang mau dengan kakak?”, tanyaku asal.

Duaakkk!

“Aduhh! Sakit tau!”, teriakku  sambil memegangi kepala.

“Salah siapa bilang seenak jidat? Aku cantik kok, baik, supel, ramah dan.... 

“Cerewet, galak, tomboy dan mirip kok sama nenek lampir”, serobotku memotong perkataannya.
“Awas kau ya!”

Sreett !

Aku segera menghindar saat kakakku akan melayangkan satu jitakan lagi ke atas kepalaku. Dengan cepat kuraih tas dan berlari menuju pintu. 

“Hahaha, lain kali kak! Ayah, Ibu, aku berangkat!”, pamitku tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah. 


Tanggal 31 Oktober 2013. Tepat hari ini kakakku akan bertunangan, dan kini aku masih bergelut dengan jadwal-jadwal tugas dan proposal yang menumpuk di depan mataku. Sebagai seorang Sekretaris OSIS, memang inilah kewajibanku. Tapi bukankah aku sudah berjanji pada ibu untuk pulang cepat? Kuyakin, di rumah semuanya pasti sedang sibuk. Mengingat itu, tak kuperduliakan lagi semua tugas ini, dengan langkah cepat ku raih tas dan bergegas pulang.

“Aku pulang”, seruku saat sampai di depan pintu rumah.

“Oh, kau sudah pulang sayang, tolong bantu ibu membereskan buket bunga itu!”, perintah ibu langsung. 

“Baiklah”, jawabku sekenanya dan langsung menyambar puluhan bunga yang berserakan di atas meja.

Suasana tak begitu ramai saat pertunangan kakakku akan dimulai dan tinggal menunggu si calon pria. Tiba-tiba gemuruh suara beberapa mobil terdengar dari luar rumah. Nah, ini dia yang di tunggu-tunggu. Aku dan semua keluarga bergegas menuju pintu. Ibu begitu gembira menyambut calon menantunya. Beberapa orang mulai keluar dari mobil-mobil mewah itu.

“Itu dia Bu”, kata kakakku memberi tahu ibu. Matanya tertuju pada mobil Ferrari hitam yang terparkir tepat di depan rumah.

Seketika, mataku terfokus pada mobil itu. Seseorang muncul dengan setelan tuxedo hitam yang berkelas. Sepertinya ada yang salah. Dan Benar!

DEG!

Seketika itu, kurasa gemuruh mulai merajai semua yang ada di fikiranku saat ini. Darahku berdesir seakan aku tak memiliki kendali lagi atas tubuh ini. Dalam sekejap kurasakam kakiku melemas. Ingin sekali aku menangis saat itu juga. Aku ingin berlari, kemanapun, dimana aku bisa menjadikan semua ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang benar-benar buruk, yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Dia... ya, itu dia. Dia yang selalu gagah dengan segala sesuatu yang melekat di tubuhnya. Kini dia kenakan kemeja ungu muda kasual dengan balutan Jas Armani mahal. Di tetap tampan dengan gaya rambutnya yang acak-acakan. Rambut mencuat ke belakang dengan warna hitam legam, selaras dengan mata hitam elangnya, namun kini tanpa terbingkai dengan kacamatanya. Ya, mata itu, mata yang mampu membuatku berhenti bernafas sejenak. Aku belum bisa menerima semua ini. Aku masih sangat berharap semua ini tidak nyata dan tak akan pernah jadi nyata. Kini dia berjalan perlahan menuju ke arahku. 

‘Kearahku?’, batinku tak yakin.

‘Tidak ! Sadarlah Rin !’, teriak batinku tersadar. 

‘Dia tunangan kakakmu!! Kau tak punya hak apapun sekarang!’, aku berjalan perlahan menghindari kerumunan tamu-tamu yang berjejal di pintu rumah. Aku tak kuasa lagi, aku berlari dan membanting pintu kamar. Untunglah tak ada yang mendengar, semua terlalu sibuk dengan dua sejoli yang akan meresmikan hubungan mereka dalam sebuah pertunangan. Air mata tak bisa kubendungkan lagi, aku menangis dalam diam, berusaha tegar dan bergembira atas pertunangan kakakku. 

Acara tukar cincin telah berakhir satu jam yang lalu.
“Hanya tidak enak badan Bu, mungkin terlalu lelah”, elakku saat Ibu mencoba bertanya kenapa aku tak melihat prosesi pertunangan kakakku. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Aku tak mau jika air mata ini akan mengalir tanpa sadar saat aku mencoba menatap wajahnya.

“Oh, Serin ya?”, aku terlonjak kaget saat suara itu menyapu gendang telingaku. Aku hafal, siapa pemilik suara itu.

“Salam kenal ya, aku Duta. Sebenarnya aku sudah mengenalmu karena kau salah satu muridku. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang baik”, ucapnya panjang lebar. Hati ini berdebar, sebuah harapan yang indah. 

“Eh? Oh, iya Pak. Oh maaf, Kak”, jawabku gelagapan. Dia hanya tersenyum, sangat manis dan menyejukkan. Berhenti! Jangan membuatku berharap lagi padamu. 

‘Apa kau lupa cincin yang bertengger manis di jari manis tangan kanannya? Seharusnya kau membuang rasa pada pria itu. Karena kau tahu, menyukai orang yang menjadi tunangan kakakmu adalah harapan yang sia-sia Rin!’,makiku dalam hati. Seketika itu juga, aku tak sanggup menatap matanya. Aku mohon pamit untuk istirahat sejenak, dan dia pun memaklumi. Mungkin tidur akan membuatku  dapat melupakan sejenak apa yang baru saja kualami. Sesuatu yang telah berhasil merobohkan semua dinding pertahanan dalam diriku. Semuanya runtuh, membuatku lemah seperti tak ada hasrat untuk hidup. Aku mulai memejamkan mata, dan berharap mendapatkan kebahagiaan walau hanya dalam mimpi.


Sebulan waktu yang cukup lama setelah peristiwa yamg masuk dalam sejarah penting dalam hidupku. Waktu sebulan belum cukup untukku menghapus semua itu. Mungkin aku akan mulai mencoba menerima keadaan ini.  Aku gelimpungan memikirkan semua ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bagai buah simalakama yang selalu salah dalam setiap apapun yang dilakukan. Ya, sangat menyedihkan. Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta,namun dia yang telah berhasil memasung hati ini hanya untuk menatap satu titik fokus padanya. Jika ada penghargaan untuk pesona tebaik yang dapat membuat seseorang leleh dalam satu kali tatap, maka akan aku berikan kepadanya. Wow, hebat bukan? Huh, itulah sebabnya bukan hal yang mudah untuk menghapusnya dalam hatiku. Terkadang aku mengutuk diriku sendiri  yang terlalu melankolis, namun memang itu yang kurasakan sekarang.

“Aarrgghhh !!”, teriakku frustasi.

Untunglah kamarku dilengkapi peredam suara,atau aku bisa dianggap cocok menjadi salah satu pasien Ayah. Ya, ayahku seorang dokter jiwa. Cukup, jangan tanya soal itu. Aku menghela nafas berat. Mungkin aku butuh hiburan untuk melepas beban ini. Beban? Yah, beban yang bahkan tak sanggup kuselesaikan sendiri. Bolehkah rasa ini tetap tumbuh untuknya? Atau mungkin aku harus mencati titik fokus lain karena pada akhirnya aku sadar, aku hanya kan berpusar pada satu pusat, yaitu dia. Dia, yang bahkan tidak akan menyadari apa yang aku rasakan. Karena telah ada kakakku yang menjadi masa depannya kelak. Tapi bagaimana dengan hatiku?

“Kak. Maafkan aku..”, ungkapku lirih.

Butiran bening mulai membasahi kedua pipiku. Bagiku, kini semuanya terasa kelam untuk dapat menerima kenyataan. Namun, aku sudah memutuskan apa yang harus aku lakukan.

“Ayah, Ibu, Kak, aku ingin kuliah di Jogja dan aku akan tinggal bersama bulek disana”, ucapku tanpa ragu saat kami tengah berkumpul di ruang keluarga. Semua tampak terkejut dengan keputusanku, terutama ibu, Beliau terlihat paling tak rela. Aku sudah beranjak dewasa, aku ingin memilih dan melakukan apa yang sudah kuputuskan. Dan akhirnya tercapailah keinginanku.

Benar, alasan pertama aku ingin kuliah di Jogja adalah menghindar dari sosok yang kini selalu menghantuiku dengan harapan-harapan kosong. Aku tak mau membahasnya lagi. Alasan kedua, bukankah akan lebih mudah menghapus memori tentangnya, jika aku berada di lingkungan yang baru? Dan ketiga, aku akan mencoba membuka hati ini untuk orang lain. Seseorang yang mampu membuatku merasa bahwa kebahagiaan bisa kita cari dimanapun dan kapanpun. Dan kurasa di sana akan menyenangkan. Seingatku saat berlibur di Jogja, tak sedikit pria tampan di sana. 

“Hmm, boleh juga”, ucapku ngawur. Bibirku membentuk seulas senyum. Semoga ini yang terbaik. Amin.



oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoTAMAToOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

BIOGRAFI R.A. KARTINI


            Kota Jepara merupakan salah satu kata yang akan dicetak tebal dalam kisah kehidupan R.A Kartini, yang  merupakan kota kelahiran Ibu Kartini. Jepara adalah sebuah kota kabupaten di Propinsi Jawa Tengan bagian Utara. Jepara merupakan salah satu kota bersejarah karena telah melahirkan tokoh-tokoh wanita dari abad ke abad, antara lain : Ratu Sima (Ratu Simo), Bu Kalinggapura, Ratu Kalinyamat, adan tentu R.A Kartini yang mendapatkan penghargaan Pahlawan Nasional sebagai pelopor gerakan emansipasi, perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya.
            Kakek R.A Kartini yaitu Pangeran Ario Tjondronegoro merupakan salah satu yang pernah menjadi Bupati Kudus pada masa jajahan Belanda di usia 25 tahun. Kemudian pada tahun 1850 beliau menjabat sebagai Bupati Demak. Pangeran Ario Tjondronegoro merupakan bupati yang pertama dalam memberikan pendidikan kepada putra-putranya dengan jalan mendatangkan guru rumah. Pangeran Ario Tjondronegoro memilki 3 putra, yaitu Pengeran Hadiningrat (paman R.A Kartini),  Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro(paman R.A Kartini) dan Raden Mas Adipati Sosroningrat(ayah R.A Kartini). Keluarga PA. Tjondronegoro merupakan pemula semangat kemajuan dan sebagai perintis jalan kearah kamajuan.
            Raden Mas Adipati Sosroningrat sebelum menjabat sebagai Bupati Jepara, beliau menjadi asisten wedono di Mayong. Pada saat itu beliau tinggal di rumah Kawedanan Mayong. Kemudian Raden Mas Adipati Sosroningrat menikah dengan RA. Moerjan (permaisuri atau garwa padmi) seorang Putri dari RMT. Tjitriwikromo. Bersama RA. Moerjan, beliau memiliki 3 orang putri yaitu : RA. Soelastri (9-1-1877), RA. Roekmini (4-7-1880), dan RA. Kartinah (3-8-1883). Kemudian beliau menikah lagi dengan seorang putri dari Teluk Awur Jepara Putri yaitu Ngasirah (selir atau garwa ampil) , putri dari Kiai Modirono dan Nyai Haji Siti Maimunah. Saat itu Ibu Ngasirah masih berusia 14 tahun dan tinggal bersama di rumah Kawedanan Mayong. Bersama Ibu Ngasirah, Raden Mas Adipati Sosroningrat memiliki 5 putra dan 3 putri, yaitu : RM. Sosroningrat, Pangeran Adipati Sosroningrat(bupati Ngawi), Drs. RM. Sosrokartono, RM. Sosromuljono, RM. Sosrorawito, Raden Ajeng Kartini, RA. Kardinah dan RA. Sumatri. R.A Kartini adalah putra kelima bila diurutkan dengan 10 saudarnya yang lain.
            Kartini lahir tepat pada hari Senin Pahing, tanggal 21 April 1879 atau pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun(Jawa) 1808. Bayi Kartini tumbuh menjadi gadis cilik yang gesit dan cekatan. Oleh karena itu, ayahnya memberi nama paraban (panggilan) ‘Nil’, lengkapnya adalah ‘Trinil’. Trinil merupakan sejenis nama burung yang lincah dan cekatan. Masa baru datang bagi Kartini untuk bersekolah. RA. Kartini mengikuti pelajaran di Sekolah Rendah Kelas Dua Belanda atau dalam bahasa Belanda, 2e klasse Hollandsche School. Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus mengalami  pingitan.
            Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
            Sebagai anak yang pandai bergaul, RA. Kartini memiliki banyak teman, dari teman-temannya itulah, beliau memperoleh pengetahuan-pengetahuan, seperti saat beliau belajar melukis dengan Nyonya Ovink Westenenk, seorang Residen Jepara Ovink. Dalam waktu singkat RA. Kartini dapat melukis sendiri. Hasil lukisannya antara lain empat ekor angsa yang sedang berenang damai di kolam. Kemudian pada tahun 1902 Katini berkenalan dengan Tuan dan Nyonya Van Kol, yang merupakan anggota Parlemen Belanda. Kembali beliau juga menceritakan cita-citanya pada keduanya. Dan tak disangka Van Kol berjuang mati-matian untuk mendukung cita-cita mulia RA. Kartini. Van Kol berusaha agar Kartini dan adik-adiknya mendapat beasiswa di Negeri Belanda. Pada tanggal 26 Nopember 1902, Van Kol mendapat janji dari menteri jajahan bahwa Kartini dan adiknya akan mendapat beasiswa tersebut. Namun pada tanggal 25 Januari 1903, Van Kol menyarankan Kartini untuk membatalkan rencananya untuk belajar di Negeri Balanda, sebab cita-citanya yang teguh dapat kabur karena ini akan memakan waktu yang lama.
            Bersamaan dengan itu, datanglah sebuah lamaran dari Bupati Rembang yang bernama Raden Adipati Jayahadiningrat. Pendirian Kartini sudah bulat, beliau akan menikah. Dan rencana pernikahannya dengan Raden Adipati Djajahadiningrat akan diadakan pada tanggal 8 Nopember 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
            Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Raden Ayu Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
            Suatu saat, surat-surat Kartini dikumpulkan oleh salah satu sahabat penanya dan kemudian menerbitkannya sebagai sebuah buku yang judunya diambil dari salah satu kata mutiara RA Kartini yang terdapat pada salah satu suratnya, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”, “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang dijual di Belanda. Diluar dugaan, ternyata buku kumpulan surat Kartini ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat Belanda, hingga diterbitkan beberapa kali karena permintaan pasar. Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Respon masyarakat Belanda tidak hanya sampai disitu saja, bahkan mereka membuat “Dana Kartini” untuk membantu perjuangannya dan akhirnya dibangunlah Sekolah Kartini yang bertujuan untuk memajukan kaum wanita di Indonesia.
            Namun RA. Kartini telah meninggal sebelum beliau sempat merasakan hasil dari usaha dan cita-citanya. Sepeninggal RA. Kartini, lambat laun cita-cita luhurnya mulai tercapai. Sudah banyak anak gadis yang sekolah dan bermunculan sekolah-sekolah seperti sekolah ‘Kautaman Istri’ yang didirikan oleh Dewi Sartika, ‘Sekolah Kepandaian Putri’ yang didirikan RA. Kardinah, adik RA. Kartini, serta bermunculan sekolah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kaum wanita telah selangkah lebih maju. Berkat jasa-jasa RA. Kartini, kaum perempuan mulai sadar akan kewajiban, tanggung jawab serta hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Sebagi penghormatan atas jasa dan pengorbanan RA. Kartini, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, pelopor gerakan emansipasi, perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya. sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.



Kamis, 12 September 2013

Lirik Lagu Pink - Just Give Me A Reason dan Terjemahannya



Right from the start, you were a thief
Sejak awal, kau adalah pencuri

You stole my heart and
Kau curi hatiku dan

I your willing victim
Akulah korbanmu yang rela

I let you see the parts of me
Kubiarkan kau melihat bagian-bagian diriku

That weren't all that pretty
Yang tak semuanya indah

And with every touch
Dan dengan setiap sentuhan

You fixed them
Kau sembuhkan semuanya

Now, you've been talking in your sleep
Kini kau sering ngelindur

Oh oh, things you never say to me
Oh oh, hal-hal yang tak pernah kau katakan padaku

Oh oh, tell me that you've had enough
Oh oh, katakanlah kau sudah muak

Of our Love, our Love
Akan cinta kita, cinta kita


CHORUS
Just give me a reason
Berilah aku satu alasan

Just a little bit's enough
Sedikit saja sudah cukup

Just a second, we're not broken
Sedetik saja, kita tak hancur

Just bent, we can learn to LOVE again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencinta lagi

Oh, it's in the stars
Oh, tertulis di bintang

It's been written in the scars on our hearts
Telah tertulis pada luka-luka di hati kita

We're not broken
Kita tak hancur

Just bent, we can learn to love again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencintai lagi


I'm sorry I don't understand where
Maaf aku tak mengerti darimana

All of these is coming from
Asal semua ini

I thought that we were fine
Dulu kukira kita baik-baik saja

(Oh, we had everything)
(Oh, kita punya segalanya)

Your head is running wild again
Kepalamu  menggila lagi

My dear, we still have everything
Kasih, kita masih punya segalanya

And it's all in your mind
Dan semuanya ada di pikiranmu

(Yeah, but this is happenin')
(yeah, tapi akan terjadi)

You've been having real bad dreams
Kau sering alami mimpi yang sangat buruk

Oh oh, used to lie so close to me
Oh oh, dulu biasanya kau berbaring dekat denganku

Oh oh, there's nothing more than empty sheets
Oh oh, kini hanya ada selimut hampa

Between our love, our love
Di antara cinta kita, cinta kita

Ooooh, our love, our love
Ooooh,  cinta kita, cinta kita

CHORUS
Just give me a reason
Berilah aku satu alasan

Just a little bit's enough
Sedikit saja sudah cukup

Just a second, we're not broken
Sedetik saja, kita tak hancur

Just bent, we can learn to LOVE again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencinta lagi

Oh, it's in the stars
Oh, tertulis di bintang

It's been written in the scars on our hearts
Telah tertulis pada luka-luka di hati kita

We're not broken
Kita tak hancur

Just bent, we can learn to love again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencintai lagi



Oh, tear ducts and rust
Oh air mata mengalir dan berkarat

I'll fix it for us
Kan kuperbaiki untuk kita

We're collecting dust
Kita kan kumpulkan debu

But our love's enough
Tapi cinta kita tlah cukup

You're holding it in
Kau mendekapnya

You're pouring a drink
Kau tuangkan minuman

No, nothing is as bad as it seems
Tak ada yang seburuk seperti kelihatannya

We'll come clean
Kita kan membereskannya


CHORUS (2x)
Just give me a reason
Berilah aku satu alasan

Just a little bit's enough
Sedikit saja sudah cukup

Just a second, we're not broken
Sedetik saja, kita tak hancur

Just bent, we can learn to LOVE again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencinta lagi

Oh, it's in the stars
Oh, tertulis di bintang

It's been written in the scars on our hearts
Telah tertulis pada luka-luka di hati kita

We're not broken
Kita tak hancur

Just bent, we can learn to love again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencintai lagi

Just give me a reason
Berilah aku satu alasan

Just a little bit's enough
Sedikit saja sudah cukup

Just a second, we're not broken
Sedetik saja, kita tak hancur

Just bent, we can learn to LOVE again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencinta lagi

Oh, it's in the stars
Oh, tertulis di bintang

It's been written in the scars on our hearts
Telah tertulis pada luka-luka di hati kita

We're not broken
Kita tak hancur

Just bent, we can learn to love again
Hanya bengkok, kita bisa belajar mencintai lagi



Ooh, we can learn to love again
Ooh, kita bisa belajar mencinta lagi

Ooh, we can learn to love again
Ooh, kita bisa belajar mencinta lagi

Ooh, we can learn to love again
Ooh, kita bisa belajar mencinta lagi