Rabu, 04 Desember 2013

BIOGRAFI R.A. KARTINI


            Kota Jepara merupakan salah satu kata yang akan dicetak tebal dalam kisah kehidupan R.A Kartini, yang  merupakan kota kelahiran Ibu Kartini. Jepara adalah sebuah kota kabupaten di Propinsi Jawa Tengan bagian Utara. Jepara merupakan salah satu kota bersejarah karena telah melahirkan tokoh-tokoh wanita dari abad ke abad, antara lain : Ratu Sima (Ratu Simo), Bu Kalinggapura, Ratu Kalinyamat, adan tentu R.A Kartini yang mendapatkan penghargaan Pahlawan Nasional sebagai pelopor gerakan emansipasi, perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya.
            Kakek R.A Kartini yaitu Pangeran Ario Tjondronegoro merupakan salah satu yang pernah menjadi Bupati Kudus pada masa jajahan Belanda di usia 25 tahun. Kemudian pada tahun 1850 beliau menjabat sebagai Bupati Demak. Pangeran Ario Tjondronegoro merupakan bupati yang pertama dalam memberikan pendidikan kepada putra-putranya dengan jalan mendatangkan guru rumah. Pangeran Ario Tjondronegoro memilki 3 putra, yaitu Pengeran Hadiningrat (paman R.A Kartini),  Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro(paman R.A Kartini) dan Raden Mas Adipati Sosroningrat(ayah R.A Kartini). Keluarga PA. Tjondronegoro merupakan pemula semangat kemajuan dan sebagai perintis jalan kearah kamajuan.
            Raden Mas Adipati Sosroningrat sebelum menjabat sebagai Bupati Jepara, beliau menjadi asisten wedono di Mayong. Pada saat itu beliau tinggal di rumah Kawedanan Mayong. Kemudian Raden Mas Adipati Sosroningrat menikah dengan RA. Moerjan (permaisuri atau garwa padmi) seorang Putri dari RMT. Tjitriwikromo. Bersama RA. Moerjan, beliau memiliki 3 orang putri yaitu : RA. Soelastri (9-1-1877), RA. Roekmini (4-7-1880), dan RA. Kartinah (3-8-1883). Kemudian beliau menikah lagi dengan seorang putri dari Teluk Awur Jepara Putri yaitu Ngasirah (selir atau garwa ampil) , putri dari Kiai Modirono dan Nyai Haji Siti Maimunah. Saat itu Ibu Ngasirah masih berusia 14 tahun dan tinggal bersama di rumah Kawedanan Mayong. Bersama Ibu Ngasirah, Raden Mas Adipati Sosroningrat memiliki 5 putra dan 3 putri, yaitu : RM. Sosroningrat, Pangeran Adipati Sosroningrat(bupati Ngawi), Drs. RM. Sosrokartono, RM. Sosromuljono, RM. Sosrorawito, Raden Ajeng Kartini, RA. Kardinah dan RA. Sumatri. R.A Kartini adalah putra kelima bila diurutkan dengan 10 saudarnya yang lain.
            Kartini lahir tepat pada hari Senin Pahing, tanggal 21 April 1879 atau pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun(Jawa) 1808. Bayi Kartini tumbuh menjadi gadis cilik yang gesit dan cekatan. Oleh karena itu, ayahnya memberi nama paraban (panggilan) ‘Nil’, lengkapnya adalah ‘Trinil’. Trinil merupakan sejenis nama burung yang lincah dan cekatan. Masa baru datang bagi Kartini untuk bersekolah. RA. Kartini mengikuti pelajaran di Sekolah Rendah Kelas Dua Belanda atau dalam bahasa Belanda, 2e klasse Hollandsche School. Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus mengalami  pingitan.
            Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
            Sebagai anak yang pandai bergaul, RA. Kartini memiliki banyak teman, dari teman-temannya itulah, beliau memperoleh pengetahuan-pengetahuan, seperti saat beliau belajar melukis dengan Nyonya Ovink Westenenk, seorang Residen Jepara Ovink. Dalam waktu singkat RA. Kartini dapat melukis sendiri. Hasil lukisannya antara lain empat ekor angsa yang sedang berenang damai di kolam. Kemudian pada tahun 1902 Katini berkenalan dengan Tuan dan Nyonya Van Kol, yang merupakan anggota Parlemen Belanda. Kembali beliau juga menceritakan cita-citanya pada keduanya. Dan tak disangka Van Kol berjuang mati-matian untuk mendukung cita-cita mulia RA. Kartini. Van Kol berusaha agar Kartini dan adik-adiknya mendapat beasiswa di Negeri Belanda. Pada tanggal 26 Nopember 1902, Van Kol mendapat janji dari menteri jajahan bahwa Kartini dan adiknya akan mendapat beasiswa tersebut. Namun pada tanggal 25 Januari 1903, Van Kol menyarankan Kartini untuk membatalkan rencananya untuk belajar di Negeri Balanda, sebab cita-citanya yang teguh dapat kabur karena ini akan memakan waktu yang lama.
            Bersamaan dengan itu, datanglah sebuah lamaran dari Bupati Rembang yang bernama Raden Adipati Jayahadiningrat. Pendirian Kartini sudah bulat, beliau akan menikah. Dan rencana pernikahannya dengan Raden Adipati Djajahadiningrat akan diadakan pada tanggal 8 Nopember 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
            Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Raden Ayu Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
            Suatu saat, surat-surat Kartini dikumpulkan oleh salah satu sahabat penanya dan kemudian menerbitkannya sebagai sebuah buku yang judunya diambil dari salah satu kata mutiara RA Kartini yang terdapat pada salah satu suratnya, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”, “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang dijual di Belanda. Diluar dugaan, ternyata buku kumpulan surat Kartini ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat Belanda, hingga diterbitkan beberapa kali karena permintaan pasar. Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Respon masyarakat Belanda tidak hanya sampai disitu saja, bahkan mereka membuat “Dana Kartini” untuk membantu perjuangannya dan akhirnya dibangunlah Sekolah Kartini yang bertujuan untuk memajukan kaum wanita di Indonesia.
            Namun RA. Kartini telah meninggal sebelum beliau sempat merasakan hasil dari usaha dan cita-citanya. Sepeninggal RA. Kartini, lambat laun cita-cita luhurnya mulai tercapai. Sudah banyak anak gadis yang sekolah dan bermunculan sekolah-sekolah seperti sekolah ‘Kautaman Istri’ yang didirikan oleh Dewi Sartika, ‘Sekolah Kepandaian Putri’ yang didirikan RA. Kardinah, adik RA. Kartini, serta bermunculan sekolah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kaum wanita telah selangkah lebih maju. Berkat jasa-jasa RA. Kartini, kaum perempuan mulai sadar akan kewajiban, tanggung jawab serta hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Sebagi penghormatan atas jasa dan pengorbanan RA. Kartini, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, pelopor gerakan emansipasi, perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya. sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.



0 komentar:

Posting Komentar