Kota
Jepara merupakan salah satu kata yang akan dicetak tebal dalam kisah kehidupan
R.A Kartini, yang merupakan kota
kelahiran Ibu Kartini. Jepara adalah sebuah kota kabupaten di Propinsi Jawa
Tengan bagian Utara. Jepara merupakan salah satu kota bersejarah karena telah
melahirkan tokoh-tokoh wanita dari abad ke abad, antara lain : Ratu Sima (Ratu
Simo), Bu Kalinggapura, Ratu Kalinyamat, adan tentu R.A Kartini yang
mendapatkan penghargaan Pahlawan Nasional sebagai pelopor gerakan emansipasi,
perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya.
Kakek
R.A Kartini yaitu Pangeran Ario Tjondronegoro merupakan salah satu yang pernah
menjadi Bupati Kudus pada masa jajahan Belanda di usia 25 tahun. Kemudian pada
tahun 1850 beliau menjabat sebagai Bupati Demak. Pangeran Ario Tjondronegoro
merupakan bupati yang pertama dalam memberikan pendidikan kepada putra-putranya
dengan jalan mendatangkan guru rumah. Pangeran Ario Tjondronegoro memilki 3
putra, yaitu Pengeran Hadiningrat (paman R.A Kartini), Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro(paman
R.A Kartini) dan Raden Mas Adipati Sosroningrat(ayah R.A Kartini). Keluarga PA.
Tjondronegoro merupakan pemula semangat kemajuan dan sebagai perintis jalan
kearah kamajuan.
Raden
Mas Adipati Sosroningrat sebelum menjabat sebagai Bupati Jepara, beliau menjadi
asisten wedono di Mayong. Pada saat itu beliau tinggal di rumah Kawedanan
Mayong. Kemudian Raden Mas Adipati Sosroningrat menikah dengan RA. Moerjan
(permaisuri atau garwa padmi) seorang Putri dari RMT. Tjitriwikromo. Bersama
RA. Moerjan, beliau memiliki 3 orang putri yaitu : RA. Soelastri (9-1-1877),
RA. Roekmini (4-7-1880), dan RA. Kartinah (3-8-1883). Kemudian beliau menikah
lagi dengan seorang putri dari Teluk Awur Jepara Putri yaitu Ngasirah (selir
atau garwa ampil) , putri dari Kiai Modirono dan Nyai Haji Siti Maimunah. Saat
itu Ibu Ngasirah masih berusia 14 tahun dan tinggal bersama di rumah Kawedanan
Mayong. Bersama Ibu Ngasirah, Raden Mas Adipati Sosroningrat memiliki 5 putra
dan 3 putri, yaitu : RM. Sosroningrat, Pangeran Adipati Sosroningrat(bupati
Ngawi), Drs. RM. Sosrokartono, RM. Sosromuljono, RM. Sosrorawito, Raden Ajeng
Kartini, RA. Kardinah dan RA. Sumatri. R.A Kartini adalah putra kelima bila
diurutkan dengan 10 saudarnya yang lain.
Kartini
lahir tepat pada hari Senin Pahing, tanggal 21 April 1879 atau pada tanggal 28
Rabiulakhir tahun(Jawa) 1808. Bayi Kartini tumbuh menjadi gadis cilik yang
gesit dan cekatan. Oleh karena itu, ayahnya memberi nama paraban (panggilan) ‘Nil’, lengkapnya adalah ‘Trinil’. Trinil
merupakan sejenis nama burung yang lincah dan cekatan. Masa baru datang bagi
Kartini untuk bersekolah. RA. Kartini mengikuti pelajaran di Sekolah Rendah
Kelas Dua Belanda atau dalam bahasa Belanda, 2e klasse Hollandsche School. Di sini antara lain Kartini belajar
bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena
harus mengalami pingitan.
Karena
Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan
menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah
satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran,
dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.
Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa
perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Sebagai
anak yang pandai bergaul, RA. Kartini memiliki banyak teman, dari
teman-temannya itulah, beliau memperoleh pengetahuan-pengetahuan, seperti saat
beliau belajar melukis dengan Nyonya Ovink Westenenk, seorang Residen Jepara
Ovink. Dalam waktu singkat RA. Kartini dapat melukis sendiri. Hasil lukisannya
antara lain empat ekor angsa yang sedang berenang damai di kolam. Kemudian pada
tahun 1902 Katini berkenalan dengan Tuan dan Nyonya Van Kol, yang merupakan
anggota Parlemen Belanda. Kembali beliau juga menceritakan cita-citanya pada
keduanya. Dan tak disangka Van Kol berjuang mati-matian untuk mendukung
cita-cita mulia RA. Kartini. Van Kol berusaha agar Kartini dan adik-adiknya
mendapat beasiswa di Negeri Belanda. Pada tanggal 26 Nopember 1902, Van Kol
mendapat janji dari menteri jajahan bahwa Kartini dan adiknya akan mendapat
beasiswa tersebut. Namun pada tanggal 25 Januari 1903, Van Kol menyarankan
Kartini untuk membatalkan rencananya untuk belajar di Negeri Balanda, sebab
cita-citanya yang teguh dapat kabur karena ini akan memakan waktu yang lama.
Bersamaan dengan itu, datanglah
sebuah lamaran dari Bupati Rembang yang bernama Raden Adipati Jayahadiningrat.
Pendirian Kartini sudah bulat, beliau akan menikah. Dan rencana pernikahannya
dengan Raden Adipati Djajahadiningrat akan diadakan pada tanggal 8 Nopember
1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan
didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks
kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai
Gedung Pramuka. Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit
Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian,
17 September 1904, Raden Ayu Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan
di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Suatu saat, surat-surat Kartini
dikumpulkan oleh salah satu sahabat penanya dan kemudian menerbitkannya sebagai
sebuah buku yang judunya diambil dari salah satu kata mutiara RA Kartini yang
terdapat pada salah satu suratnya, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”, “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT”
yang dijual di Belanda. Diluar dugaan, ternyata buku kumpulan surat Kartini ini
mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat Belanda, hingga diterbitkan
beberapa kali karena permintaan pasar. Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa
Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang:
Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun
1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang
sastrawan Pujangga Baru. Respon masyarakat Belanda tidak hanya
sampai disitu saja, bahkan mereka membuat “Dana Kartini” untuk membantu
perjuangannya dan akhirnya dibangunlah Sekolah Kartini yang bertujuan untuk
memajukan kaum wanita di Indonesia.
Namun RA. Kartini telah meninggal
sebelum beliau sempat merasakan hasil dari usaha dan cita-citanya. Sepeninggal
RA. Kartini, lambat laun cita-cita luhurnya mulai tercapai. Sudah banyak anak
gadis yang sekolah dan bermunculan sekolah-sekolah seperti sekolah ‘Kautaman
Istri’ yang didirikan oleh Dewi Sartika, ‘Sekolah Kepandaian Putri’ yang
didirikan RA. Kardinah, adik RA. Kartini, serta bermunculan sekolah lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kaum wanita telah selangkah lebih maju. Berkat
jasa-jasa RA. Kartini, kaum perempuan mulai sadar akan kewajiban, tanggung
jawab serta hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Sebagi penghormatan
atas jasa dan pengorbanan RA. Kartini, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden
Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan
Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, pelopor gerakan
emansipasi, perintis kemerdekaan bagi wanita dan sebagai pendobrak adat dan budaya. sekaligus menetapkan hari lahir
Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar
yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

0 komentar:
Posting Komentar