KARYA
TULIS ILMIAH
PENGARUH
RADIASI TELEPON SELULER TERHADAP OTAK
Oleh
:
1.
Ririn
Setyowati (24)
2.
Syifa
Hanna Fauziah (26)
XI IA 6
PEMERINTAH
KABUPATEN NGAWI
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA
NEGERI 1 NGAWI
TAHUN
PELAJARAN 2012/2013
Jl.
A. Yani No.45 Telp 0351-749089
PENGARUH RADIASI TELEPON SELULER TERHADAP OTAK
Ø Banyaknya
orang yang sangat bergantung pada penggunaan telepon seluler untuk mempermudah
segala aktivitas
Ø Terlalu
sering menggunakan telepon seluler untuk hal yang bahkan tidak penting
Ø Timbulnya
keluhan akibat penggunaan yang terus-menerus
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR
BELAKANG
Telepon
seluler (telepon seluler) yang biasa disebut handphone (HP) (Wikipedia) adalah perangkat elektronik yang
memiliki kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap
yang dapat dibawa kemana-mana. Suatu keunggulan inilah yang memberikan
keuntungan bagi penggunanya. Maraknya penggunaan telepon seluler pada setiap
aktivitas, membuat banyak orang sangat bergantung pada benda ini. Telepon
seluler kini bukan lagi sekedar alat untuk berkomunikasi. Namun juga sebagai
gaya hidup dan trend, bahkan bisa dibilang ‘nggak gaul’ jika tidak mempunyai
benda yang satu ini. Telepon seluler kini bukanlah hal mewah dan harus ada
dalam berbagai situasi. Mulai dari situasi penting untuk
kepentingan umum hingga untuk kegiatan yang sama sekali tidak penting. Seperti
yang kita tahu, lebih dari setengah penduduk Indonesia telah mengenal dan
menjadi pengguna telepon seluler. Presentase terbanyak dipegang oleh kalangan
remaja. Begitu banyak fitur-fitur menarik yang membuat pengguna telepon seluler
untuk terus berkutat menatap layar telepon. Di kalangan remaja, Telepon
seluler merupakan
alat yang multifungsi. Misalnya, untuk menelepon, mengirim pesan, sarana
hiburan (permainan, audio, video), internet, membantu proses pembelajaran,
bahkan untuk hal-hal negatif sekalipun.
Berawal dari kebutuhan untuk berkomunikasi
bahkan menjadi media yang dapat memberikan hiburan, telepon seluler menjadi
sering digunakan. Tidak sedikit orang yang sangat menggantungkan kepentingannya
pada telepon seluler, hingga tak pernah lepas dari genggaman. Namun tahukah
Anda, bahwa keuntungan yang selama ini kita dapatkan dari penggunaan telepon
seluler, tidaklah sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Efek
samping dari penggunaan telepon seluler tidak dapat diketahui secara pasti pada
tubuh. Hal ini berlangsung secara bertahap, mulai dari hal kecil yang mungkin
tidak dirasakan oleh tubuh, hingga mencapai pada keadaan yang serius. Oleh
karena itu, perlu diadakannya pemberian informasi atau penyuluhan mengenai bahaya radiasi telepon seluler ini, mulai
dari pen- cegahan hingga cara mengatasi bahaya
ini. Semakin masyarakat tahu, maka semakin kecil resiko terjadinya
dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan telepon seluler.
1.2. RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah
pengaruh dari radiasi telepon seluler terhadap otak?
2. Bagaimana
cara mengatasi dampak negatif akibat radiasi telepon seluler?
1.3. TUJUAN
1. Mengetahui
pengaruh radiasi telepon seluler terhadap otak
2. Mencegah
penggunaan telepon seluler dan mengatasi dampak radiasi telepon seluler
1.4. MANFAAT
1. Memberikan
informasi pada masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi telepon
seluler
2. Memberikan
informasi pada masyarakat mengenai hal-hal sederhana yang dapat mencegah dan
mengatasi dampak negatif dari radiasi telepon seluler
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
Radiasi
Telepon Seluler
Di
seluruh dunia saat ini telah terdapat 570 juta pemakai telepon seluler dalam
jangka waktu 5 tahun lagi, jumlahnya akan terus meningkat hingga mencapai 1,4
bilion.
Suatu hal yang tetap masih menjadi perselisihan pendapat tentang pemakaian telephone seluler adalah mengenai bahaya terdapatnya radiasi yang dicurigai dapat menimbulkan terjadinya tumor otak pada pemakainya. Isu kontroversi mengenai apakah gelombang radiasi yang dipancarkan telepon seluler berhubung dengan jaraknya terhadap kepala sewaktu pemakainya berbicara hingga dapat mengganggu jaringan sel otak yang rawan terhadap paparan gelombang elektromagnetik. Isu negatif ini menjadi sangat membimbangkan ketika awal Ogos tahun lalu seorang ahli saraf (neurologist) dari Maryland, Amerika Serikat, mengajukan saman bernilai $800 juta kepada pembuat mobile-phone serta Persatuan Industri Telekomunikasi Selular ( CTIA – Cellular Telephone Industry Association ). Neurologist tersebut ialah Dr. Christopher Newman yang menderita penyakit tumor otak yang muncul kerana keaktifannya dalam menggunakan telepon seluler. Namun sampai saat ini saman tersebut masih berhasil ditolak dengan alasan bahwa bukti dan kajian ilmiah yang mendukung risiko terjadinya kanker otak dinilai tidak cukup meyakinkan. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan telepon seluler adalah sejenis gelombang microwave yang termasuk jenis radiasi non-ionisasi dan levelnya tergolong rendah / low level radiation. Dari puluhan kajian ilmiah yang telah dilakukan sampai sekarang ini, belum terdapat bukti ilmiah hasil olahan kajian yang skala cakupan dan secara komprehensif dapat meyakinkan bahwa efek radiasi non-ionisasi pada pemakaian telepon seluler berakibat serupa dengan efek pancaran radiasi gelombang elektromagnetik jenis ionisasi yang telah dinyatakan positif sebagai salah satu penyebab tumor otak atau pun kerusakan DNA pada sel jaringan tubuh manusia.
Suatu hal yang tetap masih menjadi perselisihan pendapat tentang pemakaian telephone seluler adalah mengenai bahaya terdapatnya radiasi yang dicurigai dapat menimbulkan terjadinya tumor otak pada pemakainya. Isu kontroversi mengenai apakah gelombang radiasi yang dipancarkan telepon seluler berhubung dengan jaraknya terhadap kepala sewaktu pemakainya berbicara hingga dapat mengganggu jaringan sel otak yang rawan terhadap paparan gelombang elektromagnetik. Isu negatif ini menjadi sangat membimbangkan ketika awal Ogos tahun lalu seorang ahli saraf (neurologist) dari Maryland, Amerika Serikat, mengajukan saman bernilai $800 juta kepada pembuat mobile-phone serta Persatuan Industri Telekomunikasi Selular ( CTIA – Cellular Telephone Industry Association ). Neurologist tersebut ialah Dr. Christopher Newman yang menderita penyakit tumor otak yang muncul kerana keaktifannya dalam menggunakan telepon seluler. Namun sampai saat ini saman tersebut masih berhasil ditolak dengan alasan bahwa bukti dan kajian ilmiah yang mendukung risiko terjadinya kanker otak dinilai tidak cukup meyakinkan. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan telepon seluler adalah sejenis gelombang microwave yang termasuk jenis radiasi non-ionisasi dan levelnya tergolong rendah / low level radiation. Dari puluhan kajian ilmiah yang telah dilakukan sampai sekarang ini, belum terdapat bukti ilmiah hasil olahan kajian yang skala cakupan dan secara komprehensif dapat meyakinkan bahwa efek radiasi non-ionisasi pada pemakaian telepon seluler berakibat serupa dengan efek pancaran radiasi gelombang elektromagnetik jenis ionisasi yang telah dinyatakan positif sebagai salah satu penyebab tumor otak atau pun kerusakan DNA pada sel jaringan tubuh manusia.
Walaupun
demikian berhubung bagi pengguna yang kerap memakai telepon
seluler, para ahli
mengingatkan pemakai mobile-phone
agar tetap bijak dan berhati-hati. Para ahli organisasi kesehatan sedunia (WHO)
sangat menganjurkan agar pemakaian telepon seluler terutama di kalangan usia
kanak-kanak dibatasi sedemikian rupa, ataupun pemakaiannya menggunakan hands-free guna untuk meminimalkan
risiko yang mungkin terjadi, berhubung alasan rawannya sel otak dalam usia
kanak-kanak yang sedang mengalami pertumbuhan. WHO tengah mengadakan kajian
menyeluruh mencakup 10 negara guna menyingkap kesan pemakaian telepon seluler terhadap
risiko terjadinya kanker pada jaringan tubuh di daerah leher dan kepala. Badan FCC Amerika telah menguji
tingkat radiasi yang dipancarkan beberapa telepon seluler. Kekuatan radiasi telepon
seluler yang akan
diterima otak atau yang dinamakan SAR (Specific Absorption Rate) diukur dalam satuan watt/kg. FCC menetapkan bahwa semua telepon seluler yang
memancarkan radiasi di atas 1,6 watt/kg dilarang untuk diproduksi (dilarang
masuk di Amerika). Sebenarnya semua telepon seluler yang
beredar masih bisa dikategorikan “aman” karena tingkat SAR-nya masih di bawah
1,6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa orang yang merasa sedikit pusing
atau telinganya panas setelah menggunakan telepon seluler yang
dikategorikan “aman” tersebut. Jadi telepon seluler yang benar-benar aman (bukan
sekedar aman saja) adalah yang memiliki tingkat radiasi di bawah 1 watt/kg.
Dr. Eka Putra Setiawan dari bagian Divisi Otologi RS SANGLAH mengatakan meskipun telepon seluler mempermudah komunikasi, namun banyak efek samping dari penggunaan yang salah. Hal ini berkaitan dengan volume suara dan jarak dengar. Semakin ditempelkan ke telinga, maka semakin melekat pada liang telinga, “berdampak pada peningkatan bunyi dan resonasi”, ujarnya. Menurut Dr.Eka, semakin lama bunyi terdengar, akan menyebabkan kelelahan pada otot. “Menggunakan telepon seluler hendaknya bergantian pada telinga kanan dan kiri. Sama halnya dengan olahraga berjalan atau lari. Semakin jauh akan terasa lelah dan otot pegal. Ada masanya untuk istirahat bagi otot pendengaran”, ujarnya. Selain itu, lanjut Dr.Eka, perlu diwaspadai efek samping gelombang elektromagnetik yang dipancarkan sinyal telepon seluler. Radiasi telepon seluler berdampak negatif terhadap tubuh manusia. “Ketika Anda menggunakan telepon seluler, 70-80 persen energi radiasi yang dipancarkan dari sinyal telepon itu diserap kepala,” kata Prof.Henry Lai dari University of Washington, Amerika Serikat, seperti dikutip web MD Health. Radiasi telepon seluler memancarkan 215 kali perdetik masuk ke sel-sel otak mengenai DNA dalam sel. Pancaran sinyal dari emiter telepon seluler selalu mengikuti kaidah pancaran radiasi gelombang elektromagnetik. Beruntungnya, kata Dr.Eka, “Manusia memiliki sawar darah otak yang melindungi paparan radiasi ini terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun sangat rentan terhadap pancaran radiasi ini, sehingga sangat disarankan belum menggunakan telepon seluler. Spesialis anak Rumah Sakit Umum dr.Soetomo mencontohkan anak berusia 2,5 tahun agar orang tuanya tidak mengenalkan fungsi atau cara mengoperasikan gadget seperti telepon seluler atau laptop. Sebaiknya, anak hanya diperkenalkan pada suara, warna, atau bentuk barang elektronik tersebut. Sebab gelombang elektromagnetik yang terpancar dari barang elektronik tersebut tidak baik bagi anak. Anak beresiko mengalami gangguan proses perkembangan otak, terutama pada proses kelistrikan antarsel otak. Jika terkena gelombang elektromagnetik, hubungan listrik antarsel bisa terganggu. Hal tersebut sama dengan saat menaiki pesawat terbang. Selama pesawat landing, terbang, dan mendarat, penumpang diminta mematikan segala barang elektronik. Sebab, pancaran gelombang elektromagnetik dari gadget tersebut bisa mengganggu navigasi.
Ada
beberapa hasil penelitian (dari “ELECTRICAL SENSITIVITY” milik Prof. Dr.dr.Anies, M.Kes, PKK ) yaitu sebagai berikut:
·
Penelitian di Finlandia, radiasi elektromagnetik
telepon seluler selama 1 jam mempengaruhi produksi protein pada sel. Meskipun tidak
harus membahayakan kesehatan, tetapi jika terjadi pada sel otak dapat berakibat
fatal.
·
Laporan dari European Journal of Cancer Prevention
Augst 02 menyatakan pengunaan telepon seluler lebih rentan bagi timbulnya
kanker orak daripada tidak pernah menggunakannya sama sekali.
·
ICNIRP (International
Comission on Non Ionizing Radiation Protection) dan FCC (Federal Communication Commision)
menyatakan telepon seluler aman, meskipun wajib bagi produsen mencantumkan
tingkat ketajaman radiasi SAR (Spesific
Absorption Rate) pada buku manualnya.
·
Meskipun emisi
telepon seluler sangat kecil, apabia berada di dekat kepala selama
beberapa menit dapat menaikan suhu di sel-sel otak sekitar 0,1 derajat C.
2.2 Pengaruh Penggunaan Telepon Seluler pada Kehidupan
Kemajuan
teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai
informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita
ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Kalau dahulu kita mengenal
kata pepatah “dunia tak selebar daun kelor”, sekarang pepatah itu selayaknya
berganti “dunia saat ini selebar daun kelor”, karena cepatnya akses informasi
di berbagai belahan dunia membuat dunia ini seolah semakin sempit dikarenakan
kita dapat melihat apa yang terjadi di Amerika misalnya, meskipun kita berada
di Indonesia. Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu
besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya.
Terutama terhadap remaja. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu
besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya
masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini di
Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap
nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan
maupun pedesaan (modernisasi). Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon dan
telepon seluler (telepon seluler),
bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat
dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya, segala informasi
baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh
remaja. Dan di akui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan
pola pemikiran masyarakat khususnya remaja di pedesaan dengan segala image
yang menjadi ciri khas mereka. Dan juga berdasarkan pengaruhnya, merekalah yang
paling rentan terkena pengaruh/dampak negatif dari teknologi tersebut. Kalau
dulu kita lihat para siswa bersekolah dengan hanya membawa buku-buku pelajaran
ataupun alat tulis, kini dapat kita saksikan para siswa berangkat sekolah
dengan telepon seluler sebagai bawaan wajib mereka. Dari mana para
remaja itu memperoleh telepon seluler tersebut? Dapat di pastikan, mereka
memperolehnya dari orang tua mereka masing-masing.
Sikap orang tua yang keliru inilah
yang tidak dibenarkan. Telepon seluler
hendaknya diberikan saat anak sudah mengetahui bahaya yang dapat
ditimbulkan. Bukan hanya pada segi dampak negatif sosial, namun dampak fisik
pada pamakaiannya juga harus diperhatikan. Si anak yang baru mengenal telepon
seluler akan sangat senang dan terus-menerus menggunakannya, bahkan saat tidur
pun, telepon seluler akan tetap barada disampingnya. Ketergantungan terhadap
telepon seluler terutama dikalangan remaja, dapat berimbas negatif pada diri
mereka sendiri. Tahukah bahaya yang ditimbulkan akibat pamakaian telepon
seluler secara terus menerus? Dapat dikatakan secara jelas, tentu bukan
suatu hal yang baik. Melihat pula
kebiasaan remaja yang dinilai dapat meningkatkan bahaya dari penggunaan telepon
seluler tersebut. Hal ini berhubungan dengan dampak radiasi telepon yang
ditimbulkan. Pakar terkait menunjukkan 6 kebiasaan buruk pemakaian telepon
seluler yang merugikan kesehatan itu meliputi :
1. Menggantungkan telepon seluler
dileher atau pinggang.
Bagi mereka
yang Arrhytmia (tidak ada irama jantung), fungsi jantung tidak sempurna
sebaiknya tidak menggantungkan telepon seluler di dada. Jika telepon
seluler digantung di bagian pinggang atau sisi perut mungkin akan
mempegaruhi fungsi kesuburan. Cara yang lebih aman dan sehat adalah simpan
dalam tas yang dibawa serta.
2. Menempelkan telepon seluler di
telinga ketika menelepon.
Ketika
menelepon dan belum tersambung, radiasi akan bertambah kuat, maka sebaiknya
jauhkan telepon seluler dari bagian kepala, selang 5 detik kemudian baru
dihubungai kembali.
3.
Sinyal andphone semakin lemah ketika menempel
di telinga.
Berdasarkan
prinsip kerja telepon seluler, dalam keadaan sinyal yang agak lemah, telepon
seluler akan meningkatkan daya luncur gelombang elektromagnetnya secara
otomatis, sehingga intensitas radiasi bertambah kuat. Dengan menempelkan ke
telinga, maka radiasi yang dialami bagian kepala akan berlipat ganda.
4. Percakapan telepon seluler
terlalu lama.
Para ahli
menyarankan, tidak baik berhubungan telepon terlalu lama, jika memamg demikian
bisa mempertimbangkan memakai telepon tetap atau memeakai alat pendengar, jika
terpaksa harus berhubungan dengan telepon seluler dalam jangka waktu
lama juga harus mendengar secara bergantian di kiri dan kanan telinga 1-2
menit.
5. Sembunyi di sudut tembok dan
bisik-bisik menerima telepon rahasia.
Dengan
bersembunyi di sudut bangunan dalam kondisi umum, penutupan sinyal di sudut
bangunan tidak begitu baik, sehingga dengan demikian dapat meyababkan daya
radiasi telepon seluler dalm sudut tertentu bertambah besar.
6. Mondar-mandir (selalu bergerak).
Sejumlah
orang tanpa sadar suka berjalan perlahan ketika menelepon, selalu bergerak
kesana kemari, namun tidak sadar bahwa menggerakkan posisi dapt menyababkan
ketidakstabilan sinyal yang diterima, dengan demikian menyebabkan terjadinya
luncuran daya tinggi dalam waktu singkat yag tidak diperlukan.
Selain itu,
8 tipe penderita penyakit yang sebaiknya mengurangi pemakaian telepon seluler :
- Penyakit epilepsi
- Jantung
- Lemah saraf parah
- Katarak
- Diabetes
- Wanita hamil dan menyusui
- Anak-anak
- Orang tua berusia lebih dari 60 tahun
Dapat kita ketahui dari penelitian para ilmuwan tentang bahayanya penggunaan telepon
seluler. Pakar Amerika Serikat menuturkan, bahwa kita seharusnya mengindari 6
kebiasaan buruk pemakaian telepon
seluler dan ada 8 jenis pengguna telepon
seluler yang sebaiknya mengurangi pemakaian telepon seluler. Sebuah
riset medis terbaru AS menunjukkan, bahwa laki-laki yang menggunakan telepon seluler lebih dari 4 jam
setiap hari, bukan saja sel maninya kurang dari 40% dibanding laki-laki yang
persentase pemakaian telepon seluler-nya
lebih rendah, bahkan mutu sel maninya juga kurang,sehingga kemampuan memiliki
anak juga menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika kita mengaktifkan telepon seluler, telepon seluler akan menghantar
gelombang radio ke pusat telepon
seluler dan gelombang radio manapun juga sedikit banyak akan terserap
oleh tubuh yang berdampak buruk terhadap kesehatan kita. Proses ini disebut
radiasi telepon seluler.
Meskipun masih berdebat tentang hal ini, tapi dalam percobaan binatang sudah
terbukti bahwa gelombang mikro berpengaruh terhadap organ yang semakin banyak
mengandung kadar air maka kerusakannya semakin besar. Wakil profesor dari Lembaga Penelitian Komunikasi Radio Universitas
Jiaton, Shanghai yakni Qian Liangyi menuturkan,
bahwa telepon seluler adalah
suatu alat peluncur sinyal yang memiliki daya tertentu daya terbesar sekitar 1
watt lebih. Namun karena telepon
seluler kerap didekatkan dengan bagian otak yaitu telinga, maka waspada
terhadap dampak radiasi yang tertimbun dari hari ke hari.
2.3 Fakta Mengenai rdiasi Telepon Seluler
- Telepon Seluler bekerja pada radiasi
elektromagnetik dalam radiasi gelombang mikro seperti pada perangkat
nirkabel lainnya
- Telepon Seluler GSM memancarkan daya paling
tinggi 2 watt dan pada telepon
seluler CDMA memancarkan daya paling tinggi 1 watt
- Hingga saat ini belum ditemukan thermal efek pada
manusia. Penelitian yang pernah dilakukan hanya bisa mengungkapkan fakta
bahwa radiasi telepon seluler memiliki thermal efek pada kelinci yang bisa
menyebabkan katarak setelah 2 - 3 jam kelinci tersebut berdekatan dengan telepon
seluler yang aktif
- Belum ada sebuah penelitian yang menghasilkan
fakta bahwa terjadi peningkatan resiko kanker dan tumor bagi para pengguna
telepon seluler. Namun, dimungkinkan pada penggunaan kelas berat dan dalam
jangka waktu yang lama (secara akumulatif) bisa meningkatkan kemungkinan
resiko kanker dan tumor
- Bibit tumor bisa berkembang dengan lebih cepat
bila berdekatan / terkena medan magnet yang berhubungan dengan telepon
seluler.
- Masalah kesehatan Akustik Neuromas diketahui bisa
menjadi parah bila penderita menggunakan hendphone dalam jangka panjang.
- Beberapa laporan dari masyarakat meyakinkan
dugaan adanya efek genotoksik (masalah dalam kromosom / DNA) atas
penggunaan telepon seluler
- Rasa panas pada bagian kepala tempat kita
menempelkan telepon seluler saat bertelepon adalah tingkat radiasi
gelombang mikro yang rendah yang bisa mengganggu kemampuan sel - sel kita
untuk berkomunikasi
- Antara 20% - 60% dari radiasi yang dipancarkan
oleh telepon seluler yang kita gunakan akan ditransfer ke bagian kepala
kita sehingga bisa mengakibatkan sakit kepala dan memanasnya jaringan otak
kita
- Selanjutnya bila efek radiasi telepon seluler
telah mempengaruhi otak kita, maka akan segera menjalar ke bagian tubuh
yang lain sehingga bisa mengakibatkan rasa nyeri sendi, kejang otot,
hingga kerusakan pada retina
2.4 Solusi Mengurangi Radiasi Telepon Seluler
Adanya
radiasi telepon seluler yang
menyebabkan gangguan kesehatan hingga kini memang masih menjadi
perdebatan. Meski masih dalam perdebatan, sebagai produk elektronik yang
memancarkan gelombang, keberadaan telepon seluler perlu pengaturan dan tata
cara pakai yang pas dan aman. Dr. George
Carlo, pensiunan peneliti industri telepon seluler dari Amerika
menyebutkan setiap tahun terjadi 30 sampai 50 ribu kasus gangguan kesehatan akibat telepon seluler. Dalam kaitan
tersebut, Taraka Serrano, penulis
dan advokat kesehatan memberikan beberapa tips yang sekiranya berguna untuk
menghindari bahaya radiasi telepon
seluler :
1. Batasi Penggunaan Waktu bicara
Biasakan untuk membatasi waktu bicara di telepon
seluler, paling tidak persiapkan terlebih dahulu materi untuk pembicaraan.
Setelah dua menit Anda berbincang di telepon seluler maka aktifitas natural
electrical akan mulai meningkat ke otak.
2.
Rentan Terhadap Anak-anak
Anak-anak tentu memiliki ketahanan fisik yang lebih
lemah ketimbang orang dewasa, termasuk dalam hal radiasi telepon seluler. Untuk
itu biasakan Anak Anda untuk tidak terlalu sering memanfaatkan telepon seluler
untuk aktifitas voice. Tapi Anak-anak perlu juga diberi pemahaman untuk
pemanfaatan telepon seluler di kala darurat.
3.
Manfaatkan Airtube Headset
Walau telah menggunakan headset bukan berarti Anda
bisa terbebas dari efek radiasi. Salah satu solusi yakni manfaatkan airtube
headset. Jenis headset ini dilengkapi lubang atau rongga pada speakernya.
4. Jangan Masukkan Telepon seluler di Saku Celana
4. Jangan Masukkan Telepon seluler di Saku Celana
Material bahan di celana kadang dapat menjadi
konduktor yang cepat untuk radiasi, ketimbang reaksi ke bagian kepala. Salah
studi mengungkapkan posisi telepon seluler di saku celana, terutama dekat lipatan
paha bisa berpengaruh pada kualitas sperma hingga turun 30 persen. Ini bisa
menjadi perhatian penting bagi para pria.
5.
Jeda Saat Melakukan Panggilan
Saat Anda menggunakan telepon seluler tanpa headset,
tunggu beberapa saat sampai panggilan Anda terkoneksi ke jaringan operator,
baru kemudian tempelkan telinga ke speaker. Sedikit banyak hal ini bisa
mengurangi efek radiasi.
6.
Jangan Gunakan Telepon seluler di Elevator.
Elevator (Lift) telah menjadi standar fasilitas di
gedung-gedung bertingkat. Elevator pun kini sudah banyak yang dilengkapi
penguat sinyal oleh para operator. Namun ada pendapat untuk menunda bertelepon
di dalam ruang metal tertutup, dalam hal ini adalah elevator dan kendaraan box.
Alasannya aktifitas telepon seluler dapat memicu hukum Faraday sehingga bisa
menjebak radiasi yang dipancarkan dan di khwatirkan akibatnya berbalik ke
pengguna.
7. Indikator Kekuatan Sinyal
7. Indikator Kekuatan Sinyal
Dikala ingin melakukan panggilan, sebaiknya perhatikan
pula kondisi jaringan operator di layar telepon seluler. Jika melakukan
panggilan di saat sinyal lemah atau satu bar maka proses kerja telepon seluler
untuk terkoneksi ke jaringan operator bertambah berat. Ini juga membawa efek
pada tingkat radiasi.
8.
Gunakan Telepon seluler dengan SAR Rendah
Setiap telepon seluler yang beredar memiliki tingkat
SAR (specific absorption rate) yang berlainan. SAR diartikan sebagai ukuran
tingkat penyerapan energi dari RF (radio frequency) yang dapat masuk ke dalam
tubuh. Semakin rendah tingkat SAR maka kian bagus telepon seluler yang
dimaksud. Indikator SAR umumnya sudah disertakan dalam buku manual
pengoperasian telepon seluler.
9. EMR Protection
9. EMR Protection
Gunakan perangkat baik telepon seluler ataupun lainnya
dengan validasi EMR (Electric & Magnetic Radiation) protection. Salah satu
yang mencuat saat ini seperti pemanfaatan bio energy dan Scalar Energy. Radiasi
EMR dapat bersifat kumulatif pada tubuh Anda, wujud yang paling mudah dilihat
yakni biological stress. Jadi sangat penting untuk menggunakan Pelindung Anti
Radiasi.
10. Mengkonsumsi Suplemen
10. Mengkonsumsi Suplemen
Radiasi dari perangkat Microwave di base station dapat
mengurangi tingkat anti oxidant di dalam tubuh. Hal ini bisa menjadi ancaman,
sebab anti oxidant diperlukan tubuh untuk perlindungan dan membawa pengaruh
pada indikator stress, infeksi dan penyakit-penyakit lain. Untuk itu Anda perlu
mengkonsumsi suplemen yang mengandung elemen Melatonin, Zinc, Gingko Biloba dan
Bilberry Extract. Keempat elemen tersebut bisa meningkatkan anti oxidant,
melindungi sel otak dan kesehatan mata.
Berikut cara sederhana lainnya yang dapat dilakukan :
- Hindari pemakaian telepon
seluler untuk anak-anak secara berlebihan. Anak-anak memiliki daya tahan
tubuh yang berbeda-beda, sebaiknya menghindari pemakaian yang berlebihan
pada anak-anak untuk aktivitas telpon.
- Usahakan
menggunakan telepon seluler untuk melakukan panggilan dalam keadaan sinyal
yang bagus. Apabila sinyal telepon seluler lemah, hal tersebut akan lebih
memberikan efek radiasi karena sinyal akan bekerja lebih berat mencari
jaringan.
- Jangan
melakukan aktivitas telepon saat berada didalam lift. Karena dikhawatirkan
radiasi yang ditimbulkan akan menjebak kembali ke pengguna telepon seluler
karena lift terbuat dari metal yang mampu memancarkan atau mengembalikan
suatu pancaran gelombang radiasi.
- Sebaiknya
gunakan headset saat melakukan panggilan suara atau menelepon. Ini
merupakan cara termudah untuk menghindari radiasi. Handset jauh dari
kepala, sehingga radiasi pun jauh dari kepala.
- Biasakan SMS.
- Jangan gunakan telepon seluler sebagai alarm. Jika
Anda menggunakan telepon seluler sebagai alarm, Anda kan harus meletakkan telepon
seluler di samping kepala. Radiasi masih terpancar meskipun telepon
seluler sedang dalam keadaan diam. Bayangkan berapa jam Anda diserang
radiasi hingga waktunya bangun tidur.
- Jangan bawa telepon seluler di kantong. Bukan
hanya kanker otak yang dikhawatirkan para dokter, tapi berdasarkan
penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa pria yang membawa telepon seluler
baik di dalam kantong maupun di pinggang mempunyai risiko mandul.
Sedangkan untuk wanita yang sering meletakkan telepon selulernya di
kantong atas (depan BH), dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Jadi
jika sedang tidak digunakan, letakkan saja telepon seluler di meja.
Sekedar untuk berjaga-jaga.
- Gunakan sarung anti radiasi. Segera
cari sarung telepon seluler yang anti radiasi, harganya memang cukup mahal
tapi cukup berharga demi menghindari kanker.
- Pindahkan
telepon seluler dari telinga kiri ke kanan secara berulang kali. Hal ini
bisa membatasi paparan pada satu sisi kepala saja, yang sering dikaitkan
dengan meningkatnya risiko tumor otak dan kanker kelenjar ludah pada
telinga yang sering digunakan untuk mendengarkan suara dari telepon
seluler.
- Kurangi
Bluetooth dan headset wireless untuk mengurangi radiasi telepon seluler.
- Pilih
offline mode. Saat telepon seluler
tidak digunakan, biasakan untuk mematikannya atau, atur menjadi offline ,
standalone, atau flight mode, yang akan mematikan transmitter-nya.
- Mengurangi
pemakaian smartphone, karena dapat menghasilkan emisi yang lebih tinggi
dari telepon seluler biasa.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Setting
Penelitian
Ø
Waktu Penelitian :
Penelitian ini telah
dilakukan pada semester II tahun 2013 yang dimulai pada tanggal 11 Maret sampai
dengan 7 April 2013.
Ø
Tempat Penelitian :
Penelitian dilaksanakan di
SMAN 1 NGAWI tepatnya di Jl. A.Yani No 45. SMAN 1 NGAWI memiliki letak yang
strategis, yaitu diapit oleh Stadion Ketonggo Ngawi dan Pasar Beran Ngawi,
serta berhadapan dengan jalan raya langsung.
Ø
Subyek Penelitian :
Siswa SMAN 1 NGAWI yang
berjumlah kurang lebih 800 siswa.
3.2Populasi dan Sampel
Ø Populasi : Seluruh siswa SMAN 1
NGAWI ( 1.091 siswa )
Dengan
luas tanah : 6,620 m2
dan luas bangunan : 4,430 m2.
Ø
Sampel : Siswa XI IA6 (32 siswa)
3.3Teknik
Pengumpulan Data
Ø
Observasi
Observasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti
dan pengamat. Observasi dalam penelitian ini adalah observasi langsung yaitu
penelitian dan pengamat melihat dan mengamati secara langsung, kemudian
mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Ø Wawancara
Wawancara dilakukan oleh
peneliti untuk mendapatkan informasi dari narasumber. Wawancara
pada penelitian ini menggunakan interview tidak berstruktur karena peneliti
memandang model ini adalah yang paling luwes, dimana subyek diberi kebebasan
untuk menguraikan jawabannya dan ungkapan – ungkapan pandangannya secara bebas
dan sesuai harinya.
Ø
Internet
Peneliti mrnggunakan metode
pencarian informasi malalui website-website
atau situs-situs sumber data yang memuat hal yang berhubungan dengan obyek
yang diteliti.
3.4Prosedur
Penelitian
Ø
Perencanaan :
1.
Membuat program penelitian.
2.
Menyusun daftar dan jadwal
kegiatan penelitian.
3.
Menentukan subyek dan obyek
untuk menggali informasi.
4.
Melakukan penelitian
berdasarkan metode yang telah ditentukan.
5.
Mendokumentasikan hasil penelitian
yang telah dilakukan.
Ø
Pelaksanaan
1.
Metode Observasi
Observasi
dilakukan di lingkungan SMAN 1 NGAWI dengan mangamati perilaku siswa yang
terbiasa menggunakan telepon seluler. Metode ini dilakukan untuk mengetahui
seberapa sering siswa menggunakan telepon seluler. Secara kuantitatif, metode
dilakukan dengan menyurvei jumlah siswa yang memiliki telepon seluler, dengan
berbagai merek telepon seluler yang mereka punya.
2.
Metode Wawancara
Peneliti
melakukan wawancara pasa siswa-siswa yang dijadikan sampel untuk memperoleh
informasi lebih dalam. Wawancara dilakukan pada masing-masing siswa, untuk
mengetahui pendapat dari setiap sisi, sebab metode ini memberikan kebebasan
pada sisawa untuk menjawab sesuai dengan apa yang mereka inginkan, berupa fakta
dari diri mereka sendiri. Daftar pertanyaan pada wawancara meliputi : apakah
mereka memiliki telepon seluler, merek dari telepon seluler, jenis telepon
seluler yang digunakan (GSM atau CDMA), jumlah telepon seluler yang dimiliki, perlu atau tidaknya telepon
seluler, apkah telepon seluler tersebut mengganggu aktivitas siswa, alasan
siswa memilki telepon seluler, sejak kapan siswa memilki telepon seluler, dan
dari manakah siswa memperoleh telepon seluler, dari orangtua-kah atau hasil
tabungan uang saku dan sebagainya, akan dibahas pasa sesi wawancara ini. Dengan
begini, peneliti dapat memperkirakan tingakatan bahaya radiasi telepon seluler
pada siswa SMAN 1 NGAWI.
3.
Metode Internet
Peneliti
mencari informasi mengenai telepon seluler secara mendasar melalui situs-situs
yang berkaitan dengan telepon seluler, mulai dari awal ditemukannya telepon
seluler, pengaruh adanya telepon seluler terhadap kehidupan pada dewasa ini,
terutama ditekankan pada para remaja yang lebih aktif dalam menggunakan telepon
seluler, kemidian perilaku atau kebiasaan buruk yang kerap dilakukan tanpa
sadar dapat menimbulkan dampak negatif. Serta yang paling penting dalam
pembahasan pada penelitian ini, kebiasaan buruk tersebut dapat menimbulkan
radiasi telepon seluler yang membahayakan bagi kesehatan tubuh. Dan solusi
mudah yang dapat dilakukan setiap orang agar dapat mengurangi efek negatif yang
ditimbulkan radiasi telepon seluler.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian
dilakukan secara kuantitatif deskriptif yaitu metode yang menggunakan hasil
penelitian dengan melihat segi kualitas. Penelitian dilakukan pada siswa SMA N
1 Ngawi sebagai populasi, dan khususnya Kelas XI IA6 sebagai sampel. Penelitian
dengan metode ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai seberapa besar
pengaruh telepon seluler pada kehidupan sehari-hari siswa. Hasil penelitian didapatkan dengan
mewawancarai siswa secara langsung mengenai hal-hal yang berhubungan dengna
resiko pengaruh radiasi telepon seluler, yang meliputi :
1.
Apakah Anda memilki telepon seluler ?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
PUNYA
|
31
|
96,8 %
|
|
2.
|
TIDAK PUNYA
|
1
|
3,1 %
|
|
TOTAL
|
32
|
100 %
|
|
Keterangan : Dari seluruh siswa kelas XI IA6 yang berjumlah
32 orang, 31 orang diantaranya telah memiliki telepon seluler, hanya 1 orang
siswa yang tidak mampunyai telepon seluler. “Jika seseorang telah memilki telepon seluler,
maka orang tersebut akan memilki resiko terkena radiasi dari telepon seluler.”
Saat
ini handphone merupakan alat komunikasi yang sangat penting dan penggunaannya
terus bertambah luas. Diperkirakan terdapat 5 miliar pengguna handphone di
dunia. Jumlah yang besar ini menimbulkan kekhawatiran mengenai efek radiasi
handphone terhadap kesehatan, terutama tumor otak. Ada tidaknya keterkaitan ini
menjadi perdebatan di dunia selama beberapa tahun terakhir. Beberapa penelitian
telah dilakukan untuk menjawab hal ini, namun hasil penelitian yang didapatkan
pun beragam. Penelitian oleh Lahkola dan Klaeboe dkk pada tahun 2007 serta
Takebayashi dan Lahkola pada tahun 2008 menujukkan bahwa penggunaan handphone
tidak meningkatkan risiko tumor otak. Namun, penelitian oleh World Health
Organization (WHO) menunjukkan adanya keterkaitan. Hasil penelitian yang
kontradiksi ini dapat dikarenakan berbedanya metode penelitian, waktu
penelitian, standar yang berbeda, dan penggunaan variabel penelitian yang
berbeda-beda.
2.
Apa merek telepon seluler Anda ?
|
NO
|
MEREK
TELEPON SELULER
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
Nokia
|
15
|
36.5 %
|
|
2.
|
Samsung
|
11
|
26.8 %
|
|
3.
|
BlackBerry
|
4
|
9.7 %
|
|
4.
|
Sony
Ericsson
|
3
|
7.3 %
|
|
5.
|
Asiafone
|
2
|
4.8 %
|
|
6.
|
Cross
|
6
|
14.6 %
|
|
7.
|
Nexian
|
1
|
2.4 %
|
|
TOTAL
|
42
|
100 %
|
|
Keterangan : Dari 7 jenis merk
telepon seluler yang disurvei, dinyatakan 15 anak memiliki telepon seluler
bermerek Nokia, 11 anak memilki Samsung, 4 anak memilki BlackBerry, 3 anak
memilki Sony Erisson, 2 anak memilki Asiafone, 6 anak memilki Cross dan 1 anak
memiliki Nexian. “Semakin tinggi energi radiasi yang ditimbulkan oleh merk
telepon seluler, maka resiko terkena radiasi akan semakin mudah.”
Jenis handphone yang lebih berisiko
menyebabkan tumor otak adalah telepon seluler dengan Spesific Absorption Rate
(SAR) yang besar. SAR adalah besarnya energi radiasi yang diserap oleh jaringan
otak. Semakin besar nilai SAR, maka energi radiasi yang diserap otak lebih
banyak. Nilai SAR ini bervariasi antar model dan produsen handphone. Nilai SAR
yang aman adalah < 1,6 watt/kg. Pernahkan anda mendengar berita bahwa handphone dapat menyebabkan kanker
otak? Meskipun hal di atas belum terbukti kebenarannya, tapi memang benar bahwa
handphone memancarkan radiasi yg besar. Badan FCC Amerika telah menguji tingkat
radiasi yg dipancarkan beberapa handphone.Kekuatan radiasi handphone yg
diterima otak atau yg dinamakan SAR (Specific Absorption Rate) diukur dalam
satuan watt/kg. FCC menetapkan bahwa semua handphone yg memancarkan radiasi
diatas 1.6 watt/kg dilarang utk diproduksi (dilarang masuk di amerika).
Sebenarnya semua handphone yg beredar masih bisa dikategorikan "aman"
karena tingkat SAR-nya masih dibawah 1.6 watt/kg. Meskipun demikian ada
beberapa org yg merasa agak pusing atau telinganya panas setelah menggunakan
handphone-handhone yg dikategorikan "aman" tsb. Jadi yg betul-betul
aman (bukan sekedar aman saja) adalah yg tingkat radiasinya dibawah 1
watt/kg.Maka dari itu utk memisahkan yg "aman" dan yg
"betul-betul aman", dibuatlah tabel dibawah ini.
Berikut ini tabel SAR yang dikeluarkan oleh United
Kingdom National Physical Laboratory dan badan FCC Amerika (Federal
Communication Comission)
|
TIPE HANDPHONE
BERADIASI RENDAH |
TINGKAT RADIASI
SAR
(watt/kg) |
|
TIPE HANDPHONE
BERADIASI TINGGI |
TINGKAT RADIASI
SAR
(watt/kg) |
|
Alcatel OneTouch
|
0.97
|
|
Bosch 909
|
1.13
|
|
Ericsson A1018s
|
0.88
|
|
Ericsson GF768/788
|
1.35
|
|
Ericsson SH888
|
0.90
|
|
Ericsson R250
|
1.19
|
|
Ericsson T18s
|
0.97
|
|
Ericsson T28
|
1.49
|
|
Motorola CD930
|
0.94
|
|
Motorola CD920
|
1.17
|
|
Motorola Startac
|
0.10
|
|
Nokia 3110
|
1.24
|
|
Motorola T2688 Talkabout
|
0.35
|
|
Nokia 3210
|
1.14
|
|
Motorola V3688/8088
|
0.02
|
|
Nokia 5110
|
1.45
|
|
Nokia 6110
|
0.87
|
|
Nokia 8210
|
1.09
|
|
Nokia 6150
|
0.98
|
|
Philips Genie
|
1.52
|
|
Nokia 8810
|
0.22
|
|
Philips Genie DualBand
|
1.26
|
|
Nokia 8850/8890
|
0.98
|
|
Philips Savy
|
1.11
|
|
|
|
|
Siemens C25
|
1.33
|
Dari tabel diatas terlihat bahwa Philips
Genie, Nokia 5110, dan Ericsson T28 memiliki tingkat radiasi yg cukup tinggi, bahkan hampir mendekati ambang batas bahaya yg ditentukan
FCC, yaitu 1.6 watt/kg.
3.
Berapa banyak telepon seluler yang Anda miliki ?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
1 BUAH
|
21
|
67.7 %
|
|
2.
|
2 BUAH
|
8
|
25.8 %
|
|
3.
|
3 BUAH
|
2
|
6.4 %
|
|
TOTAL
|
31
|
100 %
|
|
Keterangan : Dari 32 siswa kelas XI
IA6, 21 siswa telah memiliki 1 buah telepon seluler, sdedangkan 8 siswa telah
memilki 2 buah dan bahkan ada 2 siswa yang telah memilki 3 buah telepon
seluler. Hal ini sangat ironis, sebab siswa yang telah memegang lebih dari 1
buah telepon seluler, memilki resiko tadiasi yang lebih besar terkena efek
radiasi. “Semakin banyak jumlah telepon seluler yang dimiliki, maka penggunaan
akan semakin sering pula, sehingga menimbulkan resiko terkena radiasi telepon
seluler yang lebih besar.”
4.
Menurut Anda, apakah siswa memerlukan telepon seluler?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
TIDAK PERLU
|
1
|
3.1 %
|
|
2.
|
PERLU
|
28
|
87.5 %
|
|
3.
|
SANGAT PERLU
|
3
|
9.3 %
|
|
TOTAL
|
32
|
100 %
|
|
Keterangan : Berdasarkan wawancara, dari 32 siswa, hanya
1 siswa yang menyatakan bahwa telepon seluler tidak terlalu dibutuhakan, dan 28
siswa merasa telepon seluler hanya sekedar perlu, serta 3 siswa diantaranya
menyatakan keberadaan telepon seluler dirasa sangat perlu.
Kehadiran telepon seluler (ponsel)
atau Handphone telah merubah kehidupan manusia. Jarak selama ini dituding
menjadi biang keladi kesulitan itu, tidak kuasa lagi menghalangi. Sebagian
besar orang zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada telepon
seluler. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup,
komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa dirinya memutuskan
menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Ketergantungan akan telepon seluler,
membuat orang-orang akan sulit melepaskan keperluannya pada telepon seluler,
jadi “Semakin seseorang perlu memiliki telepon seluler, maka semakin besar pula
resiko radiasi yang ditimbulkan akibat penggunaan yang dilakukan yang dikarenakan
sifat perlu tersebut.
5.
Apakah telepon seluler pernah mengganggu aktivitas
Anda ?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
TIDAK PERNAH
|
2
|
6.2 %
|
|
2.
|
PERNAH
|
17
|
53.1 %
|
|
3.
|
KADANG-KADANG
|
13
|
40.6 %
|
|
TOTAL
|
32
|
100 %
|
|
Keterangan : Dari 31 siswa, 2 diantaranya merasa tidak
pernah terganggu dengan adanya telepon seluler, sedangkan 17 siswa merasa
pernah terganggu dan 13 siswa terkadang merasa terganggu dengan keberadaan telepon
seluler. “Pemikiran mengenai pernah atau tidaknya telepon seluler mengganggu
aktivitas sehari-hari menunjukkan tingkat kepentingan pengguna akan telepon
seluler. Bila telepon seluler tidak pernah mengganggu aktivitas, maka pengguna
akan terus menggunakannya, sebab benda tersebut tidak menimbulkan masalah. Dan
resiko yang ditimbulkan akan lebih besar akibat seringnya penggunaan.”
6.
Apa alasan Anda memilki telepon seluler ?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
MEDIA KOMUNIKASI
|
30
|
96.8 %
|
|
2.
|
MENGIKUTI PERKEMBANGAN
ZAMAN
|
1
|
3.2 %
|
|
3.
|
GENGSI
|
0
|
0 %
|
|
TOTAL
|
31
|
100 %
|
|
Keterangan : Dari 32 siswa yang diwawancarai, 30
diantaranya menyatakan bahwa telepon seluler digunakan sebagai media
komunikasi, dan 1 siswa menyatakan telepon seluler adalah teknologi untuk
mengikuti perkembangan zaman, serta tidak ada siswa yang manyatakan telepon
seluler untuk suatu ajang untuk gengsi.“Semakin seseorang memilki kepentingan
dengan penggunaan telepon seluler, maka disaat itu pula, pengguna dapat terkena
radiasi telepon seluler, terutama melihat pentingnya telepon seluler pada saat
ini, yaitu untuk berkomunikasi.”
Tidak pernah ada
manusia yang tidak pernah berkomunikasi, baik melalui verbal maupun
non-verbal. Komunikasi tak bisa dilepaskan dari hidup manusia. Menurut
Mugniesyah (2010) sesuai dengan perkembangan model komunikasi transaksional
Schramm maka komunikasi saat ini berlangsung setara dan menampilkan fungsi yang
sama (identik), yaitu: menyandikan (encoding), menerjemahkan (decoding),
dan menginterpretasikan (interpreter). Singkatnya, fungsi encoding
(penyandi pesan) serupa dengan fungsi mentransmisikan pesan, sementara
fungsi decoding (penerjemahan pesan) setara dengan penerimaan. Jadi,
dapat dikatakan komunikasi tidak berujung-pangkal. Untuk mempertemukan para
sumber informasi dan penerima informasi maka digunakan teknologi komunikasi.
Penggunaan jenis teknologi komunikasi yang tepat yang disesuaikan dengan
situasi yang sedang berlangsung akan membuat komunikasi transaksional menjadi
lebih efisien dan efektif.
7.
Sejak kapan Anda memiliki telepon seluler ?
|
NO
|
JAWABAN
|
JUMLAH
|
|
|
ANGKA
|
PRESENTASE
|
||
|
1.
|
SD
|
9
|
29.0 %
|
|
2.
|
SMP
|
22
|
71.0 %
|
|
3.
|
SMA
|
0
|
0 %
|
|
TOTAL
|
31
|
100%
|
|
Keterangan : Dari 32 siswa, 9 anak menyatakan telah
memilki telepon seluler sejak duduk di bangku SD, dan 22 anak memilki telepon
seluler sejak SMP, serta tidak ada anak
yang memilki telepon seluler saat SMA. “Semakin dini seorang anak telah
menggunakan telepon seluler, maka resiko terkena radiasi akan semakin besar,
karena pemakaiannya yang sangat lama.”
“Anak-anak seharusnya tidak diperlakukan
seperti kelinci percobaan. Ponsel bagi anak-anak mengandung
bahaya sama dengan jika kita membiarkan mereka
berada di bawah terik matahari,”. Orangtua harus berpikir dua kali
sebelum memenuhi permintaan anaknya yang masih duduk di sekolah
dasar memiliki telepon genggam. Sebab menurut sebuah penelitian,
menggunakan telepon genggam sejak dini mempunyai risiko
jangka panjang untuk kesehatan mereka. Anak-anak lebih rentan terhadap
kerusakan karena jaringan pada tubuh dan otak mereka masih berkembang dengan
pesat. Kerusakan yang terjadi terhadap genetic dalam pertumbuhan sel dapat
mengakibatkan gangguan fungsi seluler, kematian sel, Tumor yang
berkembang, dan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dan syaraf. Ditemukan
bahwa dengan hanya menelepon dalam waktu 2 menit dapat membuka “penutup
darah ke otak” pada anak–anak ataupun dewasa, kemudian toksin masuk ke aliran
darah dengan melewati pembuluh darah ini menuju tengkorak kepala dan
menyerang sel–sel otak. Hal ini juga akan mengganggu aktivitas elektrik
alami pada otak anak sampai lebih dari 1 jam setelah menelepon.
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Telepon
genggam atau ponsel adalah alat komunikasi nirkabel yang menggunakangelombang elektromagnetik untuk menyampaikan dan
menerima pesan. Energi radiasielektromagnetik ponsel sebenarnya kecil, tetapi
untuk interaksi yang dekat dan lama, ponsel dapat memberikan efek yang signifikan. Pengaruh gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel ini masih dalam penelitian. Penelitian sementara
menunjukkan bahwa dalam
pemakaian jangka pendek, radiasi ponsel tidak berpengaruh pada kesehatan manusia. Tetapi dalam
jangka panjang, radiasi ponsel dapat meyebabkan
berbagai penyakit,
seperti Alzheimer, kerusakan DNA, dan tumor otak.
5.2.
Saran
Meskipun
efek radiasi ponsel masih dalam penelitian, ada baiknya kita mencegahdan mengurangi dampak radiasi ponsel. Kita dapat
meminimalisasi pengaruh
radiasi ponsel
dengan cara mengurangi pemakaian ponsel dan kontak langsung dengan ponsel.Kita
juga dapat menggunakan ponsel yang memancarkan sedikit radiasi. Perusahaan ponsel
hendaknya tidak memproduksi ponsel dengan banyak radiasi lagi.
DAFTAR PUSTAKA
www.en.wikipedia.org/wiki/Mobile _phone-radiation_and_health

0 komentar:
Posting Komentar