Rabu, 11 September 2013

PENGARUH RADIASI TELEPON SELULER TERHADAP OTAK



KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH RADIASI TELEPON SELULER TERHADAP OTAK

 














Oleh :
1.      Ririn Setyowati                (24)
2.      Syifa Hanna Fauziah      (26)
                                                                        XI IA 6

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI  1 NGAWI
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Jl. A. Yani No.45 Telp 0351-749089


PENGARUH RADIASI TELEPON SELULER TERHADAP OTAK
Ø Banyaknya orang yang sangat bergantung pada penggunaan telepon seluler untuk mempermudah segala aktivitas
Ø Terlalu sering menggunakan telepon seluler untuk hal yang bahkan tidak penting
Ø Timbulnya keluhan akibat penggunaan yang terus-menerus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     LATAR BELAKANG
            Telepon seluler (telepon seluler) yang biasa disebut handphone (HP) (Wikipedia) adalah perangkat elektronik yang memiliki kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap yang dapat dibawa kemana-mana. Suatu keunggulan inilah yang memberikan keuntungan bagi penggunanya. Maraknya penggunaan telepon seluler pada setiap aktivitas, membuat banyak orang sangat bergantung pada benda ini. Telepon seluler kini bukan lagi sekedar alat untuk berkomunikasi. Namun juga sebagai gaya hidup dan trend, bahkan bisa dibilang ‘nggak gaul’ jika tidak mempunyai benda yang satu ini. Telepon seluler kini bukanlah hal mewah dan harus ada dalam berbagai situasi. Mulai dari situasi penting untuk kepentingan umum hingga untuk kegiatan yang sama sekali tidak penting. Seperti yang kita tahu, lebih dari setengah penduduk Indonesia telah mengenal dan menjadi pengguna telepon seluler. Presentase terbanyak dipegang oleh kalangan remaja. Begitu banyak fitur-fitur menarik yang membuat pengguna telepon seluler untuk terus berkutat menatap layar telepon. Di kalangan remaja, Telepon seluler merupakan alat yang multifungsi. Misalnya, untuk menelepon, mengirim pesan, sarana hiburan (permainan, audio, video), internet, membantu proses pembelajaran, bahkan untuk hal-hal negatif sekalipun.
 Berawal dari kebutuhan untuk berkomunikasi bahkan menjadi media yang dapat memberikan hiburan, telepon seluler menjadi sering digunakan. Tidak sedikit orang yang sangat menggantungkan kepentingannya pada telepon seluler, hingga tak pernah lepas dari genggaman. Namun tahukah Anda, bahwa keuntungan yang selama ini kita dapatkan dari penggunaan telepon seluler, tidaklah sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Efek samping dari penggunaan telepon seluler tidak dapat diketahui secara pasti pada tubuh. Hal ini berlangsung secara bertahap, mulai dari hal kecil yang mungkin tidak dirasakan oleh tubuh, hingga mencapai pada keadaan yang serius. Oleh karena itu, perlu diadakannya pemberian informasi atau penyuluhan mengenai  bahaya radiasi telepon seluler ini, mulai dari pen- cegahan hingga cara mengatasi bahaya  ini. Semakin masyarakat tahu, maka semakin kecil resiko terjadinya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan telepon seluler.
1.2.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengaruh dari radiasi telepon seluler terhadap otak?
2.      Bagaimana cara mengatasi dampak negatif akibat radiasi telepon seluler?
1.3.       TUJUAN
1.  Mengetahui pengaruh radiasi telepon seluler terhadap otak
2.  Mencegah penggunaan telepon seluler dan mengatasi dampak radiasi telepon seluler
1.4.     MANFAAT
1. Memberikan informasi pada masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi telepon seluler
2. Memberikan informasi pada masyarakat mengenai hal-hal sederhana yang dapat mencegah dan mengatasi dampak negatif dari radiasi telepon seluler


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.         Radiasi Telepon Seluler
            Di seluruh dunia saat ini telah terdapat 570 juta pemakai telepon seluler dalam jangka waktu 5 tahun lagi, jumlahnya akan terus meningkat hingga mencapai 1,4 bilion.
Suatu hal yang tetap masih menjadi perselisihan pendapat tentang pemakaian telephone seluler adalah mengenai bahaya terdapatnya radiasi yang dicurigai dapat menimbulkan terjadinya tumor otak pada pemakainya. Isu kontroversi mengenai apakah gelombang radiasi yang dipancarkan telepon seluler berhubung dengan jaraknya terhadap kepala sewaktu pemakainya berbicara hingga dapat mengganggu jaringan sel otak yang rawan terhadap paparan gelombang elektromagnetik. Isu negatif ini menjadi sangat membimbangkan ketika awal Ogos tahun lalu seorang ahli saraf (neurologist) dari Maryland, Amerika Serikat, mengajukan saman bernilai $800 juta kepada pembuat mobile-phone serta Persatuan Industri Telekomunikasi Selular ( CTIA – Cellular Telephone Industry Association ). Neurologist tersebut ialah Dr. Christopher Newman yang menderita penyakit tumor otak yang muncul kerana keaktifannya dalam menggunakan telepon seluler. Namun sampai saat ini saman tersebut masih berhasil ditolak dengan alasan bahwa bukti dan kajian ilmiah yang mendukung risiko terjadinya kanker otak dinilai tidak cukup meyakinkan. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan
telepon seluler adalah sejenis gelombang microwave yang termasuk jenis radiasi non-ionisasi dan levelnya tergolong rendah / low level radiation. Dari puluhan kajian ilmiah yang telah dilakukan sampai sekarang ini, belum terdapat bukti ilmiah hasil olahan kajian yang skala cakupan dan secara komprehensif dapat meyakinkan bahwa efek radiasi non-ionisasi pada pemakaian telepon seluler berakibat serupa dengan efek pancaran radiasi gelombang elektromagnetik jenis ionisasi yang telah dinyatakan positif sebagai salah satu penyebab tumor otak atau pun kerusakan DNA pada sel jaringan tubuh manusia.
            Walaupun demikian berhubung bagi pengguna yang kerap memakai telepon seluler, para ahli mengingatkan pemakai mobile-phone agar tetap bijak dan berhati-hati. Para ahli organisasi kesehatan sedunia (WHO) sangat menganjurkan agar pemakaian telepon seluler terutama di kalangan usia kanak-kanak dibatasi sedemikian rupa, ataupun pemakaiannya menggunakan hands-free guna untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi, berhubung alasan rawannya sel otak dalam usia kanak-kanak yang sedang mengalami pertumbuhan. WHO tengah mengadakan kajian menyeluruh mencakup 10 negara guna menyingkap kesan pemakaian telepon seluler terhadap risiko terjadinya kanker pada jaringan tubuh di daerah leher dan kepala. Badan FCC Amerika telah menguji tingkat radiasi yang dipancarkan beberapa telepon seluler. Kekuatan radiasi telepon seluler yang akan diterima otak atau yang dinamakan SAR (Specific Absorption Rate) diukur dalam satuan watt/kg. FCC menetapkan bahwa semua telepon seluler yang memancarkan radiasi di atas 1,6 watt/kg dilarang untuk diproduksi (dilarang masuk di Amerika). Sebenarnya semua telepon seluler yang beredar masih bisa dikategorikan “aman” karena tingkat SAR-nya masih di bawah 1,6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa orang yang merasa sedikit pusing atau telinganya panas setelah menggunakan telepon seluler yang dikategorikan “aman” tersebut. Jadi telepon seluler yang benar-benar aman (bukan sekedar aman saja) adalah yang memiliki tingkat radiasi di bawah 1 watt/kg.

            Dr. Eka Putra Setiawan dari bagian Divisi Otologi RS SANGLAH mengatakan meskipun telepon seluler mempermudah komunikasi, namun banyak efek samping dari penggunaan yang salah. Hal ini berkaitan dengan volume suara dan jarak dengar. Semakin  ditempelkan ke telinga, maka semakin melekat pada liang telinga, “berdampak pada peningkatan bunyi dan resonasi”, ujarnya. Menurut Dr.Eka, semakin lama bunyi terdengar, akan menyebabkan kelelahan pada otot. “Menggunakan telepon seluler hendaknya bergantian pada telinga kanan dan kiri. Sama halnya dengan olahraga berjalan atau lari. Semakin jauh akan terasa lelah dan otot pegal. Ada masanya untuk istirahat bagi otot pendengaran”, ujarnya. Selain itu, lanjut Dr.Eka, perlu diwaspadai efek samping gelombang elektromagnetik yang dipancarkan sinyal telepon seluler. Radiasi telepon seluler berdampak negatif terhadap tubuh manusia. “Ketika Anda menggunakan telepon seluler, 70-80 persen energi radiasi yang dipancarkan dari sinyal telepon itu diserap kepala,” kata Prof.Henry Lai dari University of Washington, Amerika Serikat, seperti dikutip web MD Health. Radiasi telepon seluler memancarkan 215 kali perdetik masuk ke sel-sel otak mengenai DNA dalam sel. Pancaran sinyal dari emiter telepon seluler selalu mengikuti kaidah pancaran radiasi gelombang elektromagnetik. Beruntungnya, kata Dr.Eka, “Manusia memiliki sawar darah otak yang melindungi paparan radiasi ini terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun sangat rentan terhadap pancaran radiasi ini, sehingga sangat disarankan belum menggunakan telepon seluler. Spesialis anak Rumah Sakit Umum dr.Soetomo mencontohkan anak berusia 2,5 tahun agar orang tuanya tidak mengenalkan fungsi atau cara mengoperasikan gadget seperti
telepon seluler atau laptop. Sebaiknya, anak hanya diperkenalkan pada suara, warna, atau bentuk barang elektronik tersebut. Sebab gelombang elektromagnetik yang terpancar dari barang elektronik tersebut tidak baik bagi anak. Anak beresiko mengalami gangguan proses perkembangan otak, terutama pada proses kelistrikan antarsel otak. Jika terkena gelombang elektromagnetik, hubungan listrik antarsel bisa terganggu. Hal tersebut sama dengan saat menaiki pesawat terbang. Selama pesawat landing, terbang, dan mendarat, penumpang diminta mematikan segala barang elektronik. Sebab, pancaran gelombang elektromagnetik dari gadget tersebut bisa mengganggu navigasi.
           


            Ada beberapa hasil penelitian (dari “ELECTRICAL SENSITIVITY” milik Prof. Dr.dr.Anies, M.Kes,  PKK ) yaitu sebagai berikut:
·        Penelitian di Finlandia, radiasi elektromagnetik telepon seluler selama 1 jam mempengaruhi produksi protein pada sel. Meskipun tidak harus membahayakan kesehatan, tetapi jika terjadi pada sel otak dapat berakibat fatal.
·        Laporan dari European Journal of Cancer Prevention Augst 02 menyatakan pengunaan telepon seluler lebih rentan bagi timbulnya kanker orak daripada tidak pernah menggunakannya sama sekali.
·        ICNIRP (International Comission on Non Ionizing Radiation Protection) dan FCC (Federal Communication Commision) menyatakan telepon seluler aman, meskipun wajib bagi produsen mencantumkan tingkat ketajaman radiasi SAR (Spesific Absorption Rate) pada buku manualnya.
·        Meskipun emisi telepon seluler sangat kecil, apabia berada di dekat kepala selama beberapa menit dapat menaikan suhu di sel-sel otak sekitar 0,1 derajat C.
2.2       Pengaruh Penggunaan Telepon Seluler pada Kehidupan
          Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Kalau dahulu kita mengenal kata pepatah “dunia tak selebar daun kelor”, sekarang pepatah itu selayaknya berganti “dunia saat ini selebar daun kelor”, karena cepatnya akses informasi di berbagai belahan dunia membuat dunia ini seolah semakin sempit dikarenakan kita dapat melihat apa yang terjadi di Amerika misalnya, meskipun kita berada di Indonesia. Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Terutama terhadap remaja. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi). Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon dan telepon seluler (telepon seluler), bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya, segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh remaja. Dan di akui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat khususnya remaja di pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas mereka. Dan juga berdasarkan pengaruhnya, merekalah yang paling rentan terkena pengaruh/dampak negatif dari teknologi tersebut. Kalau dulu kita lihat para siswa bersekolah dengan hanya membawa buku-buku pelajaran ataupun alat tulis, kini dapat kita saksikan para siswa berangkat sekolah dengan telepon seluler sebagai bawaan wajib mereka. Dari mana para remaja itu memperoleh telepon seluler tersebut? Dapat di pastikan, mereka memperolehnya dari orang tua mereka masing-masing.
            Sikap orang tua yang keliru inilah yang tidak dibenarkan. Telepon seluler  hendaknya diberikan saat anak sudah mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan. Bukan hanya pada segi dampak negatif sosial, namun dampak fisik pada pamakaiannya juga harus diperhatikan. Si anak yang baru mengenal telepon seluler akan sangat senang dan terus-menerus menggunakannya, bahkan saat tidur pun, telepon seluler akan tetap barada disampingnya. Ketergantungan terhadap telepon seluler terutama dikalangan remaja, dapat berimbas negatif pada diri mereka sendiri. Tahukah bahaya yang ditimbulkan akibat pamakaian telepon seluler secara terus menerus? Dapat dikatakan secara jelas, tentu bukan suatu  hal yang baik. Melihat pula kebiasaan remaja yang dinilai dapat meningkatkan bahaya dari penggunaan telepon seluler tersebut. Hal ini berhubungan dengan dampak radiasi telepon yang ditimbulkan. Pakar terkait menunjukkan 6 kebiasaan buruk pemakaian telepon seluler yang merugikan kesehatan itu meliputi :
            1. Menggantungkan telepon seluler dileher atau pinggang.
Bagi mereka yang Arrhytmia (tidak ada irama jantung), fungsi jantung tidak sempurna sebaiknya tidak menggantungkan telepon seluler di dada. Jika telepon seluler digantung di bagian pinggang atau sisi perut mungkin akan mempegaruhi fungsi kesuburan. Cara yang lebih aman dan sehat adalah simpan dalam tas yang dibawa serta.
            2. Menempelkan telepon seluler di telinga ketika menelepon.
Ketika menelepon dan belum tersambung, radiasi akan bertambah kuat, maka sebaiknya jauhkan telepon seluler dari bagian kepala, selang 5 detik kemudian baru dihubungai kembali.
3.      Sinyal andphone semakin lemah ketika menempel di telinga.           
Berdasarkan prinsip kerja telepon seluler, dalam keadaan sinyal yang agak lemah, telepon seluler akan meningkatkan daya luncur gelombang elektromagnetnya secara otomatis, sehingga intensitas radiasi bertambah kuat. Dengan menempelkan ke telinga, maka radiasi yang dialami bagian kepala akan berlipat ganda.
            4. Percakapan telepon seluler terlalu lama.
Para ahli menyarankan, tidak baik berhubungan telepon terlalu lama, jika memamg demikian bisa mempertimbangkan memakai telepon tetap atau memeakai alat pendengar, jika terpaksa harus berhubungan dengan telepon seluler dalam jangka waktu lama juga harus mendengar secara bergantian di kiri dan kanan telinga 1-2 menit.
            5. Sembunyi di sudut tembok dan bisik-bisik menerima telepon rahasia.
Dengan bersembunyi di sudut bangunan dalam kondisi umum, penutupan sinyal di sudut bangunan tidak begitu baik, sehingga dengan demikian dapat meyababkan daya radiasi telepon seluler dalm sudut tertentu bertambah besar.
            6. Mondar-mandir (selalu bergerak).
Sejumlah orang tanpa sadar suka berjalan perlahan ketika menelepon, selalu bergerak kesana kemari, namun tidak sadar bahwa menggerakkan posisi dapt menyababkan ketidakstabilan sinyal yang diterima, dengan demikian menyebabkan terjadinya luncuran daya tinggi dalam waktu singkat yag tidak diperlukan.
Selain itu, 8 tipe penderita penyakit yang sebaiknya mengurangi pemakaian telepon seluler :
  1. Penyakit epilepsi
  2. Jantung
  3. Lemah saraf parah
  4. Katarak
  5. Diabetes
  6. Wanita hamil dan menyusui
  7. Anak-anak
  8. Orang tua berusia lebih dari 60 tahun
            Dapat kita ketahui dari penelitian para ilmuwan tentang bahayanya penggunaan telepon seluler. Pakar Amerika Serikat menuturkan, bahwa kita seharusnya mengindari 6 kebiasaan buruk pemakaian telepon seluler dan ada 8 jenis pengguna telepon seluler yang sebaiknya mengurangi pemakaian telepon seluler. Sebuah riset medis terbaru AS menunjukkan, bahwa laki-laki yang menggunakan telepon seluler lebih dari 4 jam setiap hari, bukan saja sel maninya kurang dari 40% dibanding laki-laki yang persentase pemakaian telepon seluler-nya lebih rendah, bahkan mutu sel maninya juga kurang,sehingga kemampuan memiliki anak juga menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika kita mengaktifkan telepon seluler, telepon seluler akan menghantar gelombang radio ke pusat telepon seluler dan gelombang radio manapun juga sedikit banyak akan terserap oleh tubuh yang berdampak buruk terhadap kesehatan kita. Proses ini disebut radiasi telepon seluler. Meskipun masih berdebat tentang hal ini, tapi dalam percobaan binatang sudah terbukti bahwa gelombang mikro berpengaruh terhadap organ yang semakin banyak mengandung kadar air maka kerusakannya semakin besar. Wakil profesor dari Lembaga Penelitian Komunikasi Radio Universitas Jiaton, Shanghai yakni Qian Liangyi menuturkan, bahwa telepon seluler adalah suatu alat peluncur sinyal yang memiliki daya tertentu daya terbesar sekitar 1 watt lebih. Namun karena telepon seluler kerap didekatkan dengan bagian otak yaitu telinga, maka waspada terhadap dampak radiasi yang tertimbun dari hari ke hari.
2.3     Fakta Mengenai rdiasi Telepon Seluler 
  1. Telepon Seluler bekerja pada radiasi elektromagnetik dalam radiasi gelombang mikro seperti pada perangkat nirkabel lainnya
  2. Telepon Seluler GSM memancarkan daya paling tinggi 2 watt dan pada telepon  seluler CDMA memancarkan daya paling tinggi 1 watt
  3. Hingga saat ini belum ditemukan thermal efek pada manusia. Penelitian yang pernah dilakukan hanya bisa mengungkapkan fakta bahwa radiasi telepon seluler memiliki thermal efek pada kelinci yang bisa menyebabkan katarak setelah 2 - 3 jam kelinci tersebut berdekatan dengan telepon seluler yang aktif
  4. Belum ada sebuah penelitian yang menghasilkan fakta bahwa terjadi peningkatan resiko kanker dan tumor bagi para pengguna telepon seluler. Namun, dimungkinkan pada penggunaan kelas berat dan dalam jangka waktu yang lama (secara akumulatif) bisa meningkatkan kemungkinan resiko kanker dan tumor
  5. Bibit tumor bisa berkembang dengan lebih cepat bila berdekatan / terkena medan magnet yang berhubungan dengan telepon seluler.
  6. Masalah kesehatan Akustik Neuromas diketahui bisa menjadi parah bila penderita menggunakan hendphone dalam jangka panjang.
  7. Beberapa laporan dari masyarakat meyakinkan dugaan adanya efek genotoksik (masalah dalam kromosom / DNA) atas penggunaan telepon seluler 
  8. Rasa panas pada bagian kepala tempat kita menempelkan telepon seluler saat bertelepon adalah tingkat radiasi gelombang mikro yang rendah yang bisa mengganggu kemampuan sel - sel kita untuk berkomunikasi
  9. Antara 20% - 60% dari radiasi yang dipancarkan oleh telepon seluler yang kita gunakan akan ditransfer ke bagian kepala kita sehingga bisa mengakibatkan sakit kepala dan memanasnya jaringan otak kita
  10. Selanjutnya bila efek radiasi telepon seluler telah mempengaruhi otak kita, maka akan segera menjalar ke bagian tubuh yang lain sehingga bisa mengakibatkan rasa nyeri sendi, kejang otot, hingga kerusakan pada retina
2.4     Solusi Mengurangi Radiasi Telepon Seluler
            Adanya radiasi telepon seluler yang menyebabkan gangguan kesehatan hingga kini memang masih menjadi perdebatan. Meski masih dalam perdebatan, sebagai produk elektronik yang memancarkan gelombang, keberadaan telepon seluler perlu pengaturan dan tata cara pakai yang pas dan aman. Dr. George Carlo, pensiunan peneliti industri telepon seluler dari Amerika menyebutkan setiap tahun terjadi 30 sampai 50 ribu kasus gangguan kesehatan akibat telepon seluler. Dalam kaitan tersebut, Taraka Serrano, penulis dan advokat kesehatan memberikan beberapa tips yang sekiranya berguna untuk menghindari bahaya radiasi telepon seluler :
            1. Batasi Penggunaan Waktu bicara
Biasakan untuk membatasi waktu bicara di telepon seluler, paling tidak persiapkan terlebih dahulu materi untuk pembicaraan. Setelah dua menit Anda berbincang di telepon seluler maka aktifitas natural electrical akan mulai meningkat ke otak.
            2. Rentan Terhadap Anak-anak
Anak-anak tentu memiliki ketahanan fisik yang lebih lemah ketimbang orang dewasa, termasuk dalam hal radiasi telepon seluler. Untuk itu biasakan Anak Anda untuk tidak terlalu sering memanfaatkan telepon seluler untuk aktifitas voice. Tapi Anak-anak perlu juga diberi pemahaman untuk pemanfaatan telepon seluler di kala darurat.
            3. Manfaatkan Airtube Headset
Walau telah menggunakan headset bukan berarti Anda bisa terbebas dari efek radiasi. Salah satu solusi yakni manfaatkan airtube headset. Jenis headset ini dilengkapi lubang atau rongga pada speakernya.
            4. Jangan Masukkan Telepon seluler di Saku Celana
Material bahan di celana kadang dapat menjadi konduktor yang cepat untuk radiasi, ketimbang reaksi ke bagian kepala. Salah studi mengungkapkan posisi telepon seluler di saku celana, terutama dekat lipatan paha bisa berpengaruh pada kualitas sperma hingga turun 30 persen. Ini bisa menjadi perhatian penting bagi para pria.
            5. Jeda Saat Melakukan Panggilan
Saat Anda menggunakan telepon seluler tanpa headset, tunggu beberapa saat sampai panggilan Anda terkoneksi ke jaringan operator, baru kemudian tempelkan telinga ke speaker. Sedikit banyak hal ini bisa mengurangi efek radiasi.
            6. Jangan Gunakan Telepon seluler di Elevator.
Elevator (Lift) telah menjadi standar fasilitas di gedung-gedung bertingkat. Elevator pun kini sudah banyak yang dilengkapi penguat sinyal oleh para operator. Namun ada pendapat untuk menunda bertelepon di dalam ruang metal tertutup, dalam hal ini adalah elevator dan kendaraan box. Alasannya aktifitas telepon seluler dapat memicu hukum Faraday sehingga bisa menjebak radiasi yang dipancarkan dan di khwatirkan akibatnya berbalik ke pengguna.
            7. Indikator Kekuatan Sinyal
Dikala ingin melakukan panggilan, sebaiknya perhatikan pula kondisi jaringan operator di layar telepon seluler. Jika melakukan panggilan di saat sinyal lemah atau satu bar maka proses kerja telepon seluler untuk terkoneksi ke jaringan operator bertambah berat. Ini juga membawa efek pada tingkat radiasi.
            8. Gunakan Telepon seluler dengan SAR Rendah
Setiap telepon seluler yang beredar memiliki tingkat SAR (specific absorption rate) yang berlainan. SAR diartikan sebagai ukuran tingkat penyerapan energi dari RF (radio frequency) yang dapat masuk ke dalam tubuh. Semakin rendah tingkat SAR maka kian bagus telepon seluler yang dimaksud. Indikator SAR umumnya sudah disertakan dalam buku manual pengoperasian telepon seluler.
            9. EMR Protection
Gunakan perangkat baik telepon seluler ataupun lainnya dengan validasi EMR (Electric & Magnetic Radiation) protection. Salah satu yang mencuat saat ini seperti pemanfaatan bio energy dan Scalar Energy. Radiasi EMR dapat bersifat kumulatif pada tubuh Anda, wujud yang paling mudah dilihat yakni biological stress. Jadi sangat penting untuk menggunakan Pelindung Anti Radiasi.
            10. Mengkonsumsi Suplemen
Radiasi dari perangkat Microwave di base station dapat mengurangi tingkat anti oxidant di dalam tubuh. Hal ini bisa menjadi ancaman, sebab anti oxidant diperlukan tubuh untuk perlindungan dan membawa pengaruh pada indikator stress, infeksi dan penyakit-penyakit lain. Untuk itu Anda perlu mengkonsumsi suplemen yang mengandung elemen Melatonin, Zinc, Gingko Biloba dan Bilberry Extract. Keempat elemen tersebut bisa meningkatkan anti oxidant, melindungi sel otak dan kesehatan mata.
Berikut cara sederhana lainnya yang dapat dilakukan :
  • Hindari pemakaian telepon seluler untuk anak-anak secara berlebihan. Anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda, sebaiknya menghindari pemakaian yang berlebihan pada anak-anak untuk aktivitas telpon.
  • Usahakan menggunakan telepon seluler untuk melakukan panggilan dalam keadaan sinyal yang bagus. Apabila sinyal telepon seluler lemah, hal tersebut akan lebih memberikan efek radiasi karena sinyal akan bekerja lebih berat mencari jaringan.
  • Jangan melakukan aktivitas telepon saat berada didalam lift. Karena dikhawatirkan radiasi yang ditimbulkan akan menjebak kembali ke pengguna telepon seluler karena lift terbuat dari metal yang mampu memancarkan atau mengembalikan suatu pancaran gelombang radiasi.
  • Sebaiknya gunakan headset saat melakukan panggilan suara atau menelepon. Ini merupakan cara termudah untuk menghindari radiasi. Handset jauh dari kepala, sehingga radiasi pun jauh dari kepala.
  • Biasakan SMS.  
  • Jangan gunakan telepon seluler sebagai alarm. Jika Anda menggunakan telepon seluler sebagai alarm, Anda kan harus meletakkan telepon seluler di samping kepala. Radiasi masih terpancar meskipun telepon seluler sedang dalam keadaan diam. Bayangkan berapa jam Anda diserang radiasi hingga waktunya bangun tidur.
  • Jangan bawa telepon seluler di kantong. Bukan hanya kanker otak yang dikhawatirkan para dokter, tapi berdasarkan penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa pria yang membawa telepon seluler baik di dalam kantong maupun di pinggang mempunyai risiko mandul. Sedangkan untuk wanita yang sering meletakkan telepon selulernya di kantong atas (depan BH), dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Jadi jika sedang tidak digunakan, letakkan saja telepon seluler di meja. Sekedar untuk berjaga-jaga.
  • Gunakan sarung anti radiasi. Segera cari sarung telepon seluler yang anti radiasi, harganya memang cukup mahal tapi cukup berharga demi menghindari kanker.
  • Pindahkan telepon seluler dari telinga kiri ke kanan secara berulang kali. Hal ini bisa membatasi paparan pada satu sisi kepala saja, yang sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko tumor otak dan kanker kelenjar ludah pada telinga yang sering digunakan untuk mendengarkan suara dari telepon seluler.
  • Kurangi Bluetooth dan headset wireless untuk mengurangi radiasi telepon seluler.
  • Pilih offline mode.  Saat telepon seluler tidak digunakan, biasakan untuk mematikannya atau, atur menjadi offline , standalone, atau flight mode, yang akan mematikan transmitter-nya.
  • Mengurangi pemakaian smartphone, karena dapat menghasilkan emisi yang lebih tinggi dari telepon seluler biasa.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Setting Penelitian
Ø Waktu Penelitian :
Penelitian ini telah dilakukan pada semester II tahun 2013 yang dimulai pada tanggal 11 Maret sampai dengan 7 April 2013.
Ø  Tempat Penelitian :
Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 NGAWI tepatnya di Jl. A.Yani No 45. SMAN 1 NGAWI memiliki letak yang strategis, yaitu diapit oleh Stadion Ketonggo Ngawi dan Pasar Beran Ngawi, serta berhadapan dengan jalan raya langsung.
Ø  Subyek Penelitian :
Siswa SMAN 1 NGAWI yang berjumlah kurang lebih 800 siswa.
3.2Populasi dan Sampel
Ø  Populasi    : Seluruh siswa SMAN 1 NGAWI  ( 1.091 siswa )
Dengan luas tanah : 6,620 m2  dan luas bangunan : 4,430 m2.  
Ø Sampel      : Siswa XI IA6 (32 siswa)
3.3Teknik Pengumpulan Data
Ø Observasi
Observasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan pengamat. Observasi dalam penelitian ini adalah observasi langsung yaitu penelitian dan pengamat melihat dan mengamati secara langsung, kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Ø  Wawancara
Wawancara dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi dari narasumber. Wawancara pada penelitian ini menggunakan interview tidak berstruktur karena peneliti memandang model ini adalah yang paling luwes, dimana subyek diberi kebebasan untuk menguraikan jawabannya dan ungkapan – ungkapan pandangannya secara bebas dan sesuai harinya.
Ø  Internet
Peneliti mrnggunakan metode pencarian informasi malalui website-website atau situs-situs sumber data yang memuat hal yang berhubungan dengan obyek yang diteliti.

3.4Prosedur Penelitian
Ø  Perencanaan :
1.      Membuat program penelitian.
2.      Menyusun daftar dan jadwal kegiatan penelitian.
3.      Menentukan subyek dan obyek untuk menggali informasi.
4.      Melakukan penelitian berdasarkan metode yang telah ditentukan.
5.      Mendokumentasikan hasil penelitian yang telah dilakukan.
Ø  Pelaksanaan
1.      Metode Observasi
Observasi dilakukan di lingkungan SMAN 1 NGAWI dengan mangamati perilaku siswa yang terbiasa menggunakan telepon seluler. Metode ini dilakukan untuk mengetahui seberapa sering siswa menggunakan telepon seluler. Secara kuantitatif, metode dilakukan dengan menyurvei jumlah siswa yang memiliki telepon seluler, dengan berbagai merek telepon seluler yang mereka punya.
2.      Metode Wawancara
Peneliti melakukan wawancara pasa siswa-siswa yang dijadikan sampel untuk memperoleh informasi lebih dalam. Wawancara dilakukan pada masing-masing siswa, untuk mengetahui pendapat dari setiap sisi, sebab metode ini memberikan kebebasan pada sisawa untuk menjawab sesuai dengan apa yang mereka inginkan, berupa fakta dari diri mereka sendiri. Daftar pertanyaan pada wawancara meliputi : apakah mereka memiliki telepon seluler, merek dari telepon seluler, jenis telepon seluler yang digunakan (GSM atau CDMA), jumlah telepon seluler  yang dimiliki, perlu atau tidaknya telepon seluler, apkah telepon seluler tersebut mengganggu aktivitas siswa, alasan siswa memilki telepon seluler, sejak kapan siswa memilki telepon seluler, dan dari manakah siswa memperoleh telepon seluler, dari orangtua-kah atau hasil tabungan uang saku dan sebagainya, akan dibahas pasa sesi wawancara ini. Dengan begini, peneliti dapat memperkirakan tingakatan bahaya radiasi telepon seluler pada siswa SMAN 1 NGAWI.
3.      Metode Internet
Peneliti mencari informasi mengenai telepon seluler secara mendasar melalui situs-situs yang berkaitan dengan telepon seluler, mulai dari awal ditemukannya telepon seluler, pengaruh adanya telepon seluler terhadap kehidupan pada dewasa ini, terutama ditekankan pada para remaja yang lebih aktif dalam menggunakan telepon seluler, kemidian perilaku atau kebiasaan buruk yang kerap dilakukan tanpa sadar dapat menimbulkan dampak negatif. Serta yang paling penting dalam pembahasan pada penelitian ini, kebiasaan buruk tersebut dapat menimbulkan radiasi telepon seluler yang membahayakan bagi kesehatan tubuh. Dan solusi mudah yang dapat dilakukan setiap orang agar dapat mengurangi efek negatif yang ditimbulkan radiasi telepon seluler.


BAB IV
HASIL PENELITIAN
            Penelitian dilakukan secara kuantitatif deskriptif yaitu metode yang menggunakan hasil penelitian dengan melihat segi kualitas. Penelitian dilakukan pada siswa SMA N 1 Ngawi sebagai populasi, dan khususnya Kelas XI IA6 sebagai sampel. Penelitian dengan metode ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai seberapa besar pengaruh telepon seluler pada kehidupan sehari-hari siswa. Hasil penelitian didapatkan dengan mewawancarai siswa secara langsung mengenai hal-hal yang berhubungan dengna resiko pengaruh radiasi telepon seluler, yang meliputi :

1.      Apakah Anda memilki telepon seluler ?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
PUNYA
31
96,8 %
2.
TIDAK PUNYA
1
3,1 %
TOTAL
32
100 %
           
            Keterangan :  Dari seluruh siswa kelas XI IA6 yang berjumlah 32 orang, 31 orang diantaranya telah memiliki telepon seluler, hanya 1 orang siswa yang tidak mampunyai telepon seluler.  “Jika seseorang telah memilki telepon seluler, maka orang tersebut akan memilki resiko terkena radiasi dari telepon seluler.”
            Saat ini handphone merupakan alat komunikasi yang sangat penting dan penggunaannya terus bertambah luas. Diperkirakan terdapat 5 miliar pengguna handphone di dunia. Jumlah yang besar ini menimbulkan kekhawatiran mengenai efek radiasi handphone terhadap kesehatan, terutama tumor otak. Ada tidaknya keterkaitan ini menjadi perdebatan di dunia selama beberapa tahun terakhir. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menjawab hal ini, namun hasil penelitian yang didapatkan pun beragam. Penelitian oleh Lahkola dan Klaeboe dkk pada tahun 2007 serta Takebayashi dan Lahkola pada tahun 2008 menujukkan bahwa penggunaan handphone tidak meningkatkan risiko tumor otak. Namun, penelitian oleh World Health Organization (WHO) menunjukkan adanya keterkaitan. Hasil penelitian yang kontradiksi ini dapat dikarenakan berbedanya metode penelitian, waktu penelitian, standar yang berbeda, dan penggunaan variabel penelitian yang berbeda-beda.



2.      Apa merek telepon seluler Anda ?
NO
MEREK TELEPON SELULER
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
Nokia
15
36.5 %
2.
Samsung
11
26.8 %
3.
BlackBerry
4
9.7 %
4.
Sony Ericsson
3
7.3 %
5.
Asiafone
2
4.8 %
6.
Cross
6
14.6 %
7.
Nexian
1
2.4 %
TOTAL
42
100 %

            Keterangan : Dari 7 jenis merk telepon seluler yang disurvei, dinyatakan 15 anak memiliki telepon seluler bermerek Nokia, 11 anak memilki Samsung, 4 anak memilki BlackBerry, 3 anak memilki Sony Erisson, 2 anak memilki Asiafone, 6 anak memilki Cross dan 1 anak memiliki Nexian. “Semakin tinggi energi radiasi yang ditimbulkan oleh merk telepon seluler, maka resiko terkena radiasi akan semakin mudah.”
            Jenis handphone yang lebih berisiko menyebabkan tumor otak adalah telepon seluler dengan Spesific Absorption Rate (SAR) yang besar. SAR adalah besarnya energi radiasi yang diserap oleh jaringan otak. Semakin besar nilai SAR, maka energi radiasi yang diserap otak lebih banyak. Nilai SAR ini bervariasi antar model dan produsen handphone. Nilai SAR yang aman adalah < 1,6 watt/kg. Pernahkan anda mendengar berita bahwa handphone dapat menyebabkan kanker otak? Meskipun hal di atas belum terbukti kebenarannya, tapi memang benar bahwa handphone memancarkan radiasi yg besar. Badan FCC Amerika telah menguji tingkat radiasi yg dipancarkan beberapa handphone.Kekuatan radiasi handphone yg diterima otak atau yg dinamakan SAR (Specific Absorption Rate) diukur dalam satuan watt/kg. FCC menetapkan bahwa semua handphone yg memancarkan radiasi diatas 1.6 watt/kg dilarang utk diproduksi (dilarang masuk di amerika). Sebenarnya semua handphone yg beredar masih bisa dikategorikan "aman" karena tingkat SAR-nya masih dibawah 1.6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa org yg merasa agak pusing atau telinganya panas setelah menggunakan handphone-handhone yg dikategorikan "aman" tsb. Jadi yg betul-betul aman (bukan sekedar aman saja) adalah yg tingkat radiasinya dibawah 1 watt/kg.Maka dari itu utk memisahkan yg "aman" dan yg "betul-betul aman", dibuatlah tabel dibawah ini.


            Berikut ini tabel SAR yang dikeluarkan oleh United Kingdom National Physical Laboratory dan badan FCC Amerika (Federal Communication Comission)
TIPE HANDPHONE
BERADIASI RENDAH
TINGKAT RADIASI SAR
(watt/kg)

TIPE HANDPHONE
BERADIASI TINGGI
TINGKAT RADIASI SAR
(watt/kg)
Alcatel OneTouch
0.97

Bosch 909
1.13
Ericsson A1018s
0.88

Ericsson GF768/788
1.35
Ericsson SH888
0.90

Ericsson R250
1.19
Ericsson T18s
0.97

Ericsson T28
1.49
Motorola CD930
0.94

Motorola CD920
1.17
Motorola Startac
0.10

Nokia 3110
1.24
Motorola T2688 Talkabout
0.35

Nokia 3210
1.14
Motorola V3688/8088
0.02

Nokia 5110
1.45
Nokia 6110
0.87

Nokia 8210
1.09
Nokia 6150
0.98

Philips Genie
1.52
Nokia 8810
0.22

Philips Genie DualBand
1.26
Nokia 8850/8890
0.98

Philips Savy
1.11



Siemens C25
1.33
Dari tabel diatas terlihat bahwa Philips Genie, Nokia 5110, dan Ericsson T28 memiliki tingkat radiasi yg cukup tinggi, bahkan hampir mendekati ambang batas bahaya yg ditentukan FCC, yaitu 1.6 watt/kg.
3.      Berapa banyak telepon seluler yang Anda miliki ?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
1 BUAH
21
67.7 %
2.
2 BUAH
8
25.8 %
3.
3 BUAH
2
6.4 %
TOTAL
31
100 %

            Keterangan : Dari 32 siswa kelas XI IA6, 21 siswa telah memiliki 1 buah telepon seluler, sdedangkan 8 siswa telah memilki 2 buah dan bahkan ada 2 siswa yang telah memilki 3 buah telepon seluler. Hal ini sangat ironis, sebab siswa yang telah memegang lebih dari 1 buah telepon seluler, memilki resiko tadiasi yang lebih besar terkena efek radiasi. “Semakin banyak jumlah telepon seluler yang dimiliki, maka penggunaan akan semakin sering pula, sehingga menimbulkan resiko terkena radiasi telepon seluler yang lebih besar.”

4.      Menurut Anda, apakah siswa memerlukan telepon seluler?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
TIDAK PERLU
1
3.1 %
2.
PERLU
28
87.5 %
3.
SANGAT PERLU
3
9.3 %
TOTAL
32
100 %
           
            Keterangan : Berdasarkan wawancara, dari 32 siswa, hanya 1 siswa yang menyatakan bahwa telepon seluler tidak terlalu dibutuhakan, dan 28 siswa merasa telepon seluler hanya sekedar perlu, serta 3 siswa diantaranya menyatakan keberadaan telepon seluler dirasa sangat perlu.
            Kehadiran telepon seluler (ponsel) atau Handphone telah merubah kehidupan manusia. Jarak selama ini dituding menjadi biang keladi kesulitan itu, tidak kuasa lagi menghalangi. Sebagian besar orang zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada telepon seluler. Menurutnya, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa dirinya memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam. Ketergantungan akan telepon seluler, membuat orang-orang akan sulit melepaskan keperluannya pada telepon seluler, jadi “Semakin seseorang perlu memiliki telepon seluler, maka semakin besar pula resiko radiasi yang ditimbulkan akibat penggunaan yang dilakukan yang dikarenakan sifat perlu tersebut.
5.      Apakah telepon seluler pernah mengganggu aktivitas Anda ?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
TIDAK PERNAH
2
6.2 %
2.
PERNAH
17
53.1 %
3.
KADANG-KADANG
13
40.6 %
TOTAL
32
100 %
           
            Keterangan : Dari 31 siswa, 2 diantaranya merasa tidak pernah terganggu dengan adanya telepon seluler, sedangkan 17 siswa merasa pernah terganggu dan 13 siswa terkadang merasa terganggu dengan keberadaan telepon seluler. “Pemikiran mengenai pernah atau tidaknya telepon seluler mengganggu aktivitas sehari-hari menunjukkan tingkat kepentingan pengguna akan telepon seluler. Bila telepon seluler tidak pernah mengganggu aktivitas, maka pengguna akan terus menggunakannya, sebab benda tersebut tidak menimbulkan masalah. Dan resiko yang ditimbulkan akan lebih besar akibat seringnya penggunaan.”

6.      Apa alasan Anda memilki telepon seluler ?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
MEDIA KOMUNIKASI
30
96.8 %
2.
MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN
1
3.2 %
3.
GENGSI
0
0 %
TOTAL
31
100 %
           
            Keterangan : Dari 32 siswa yang diwawancarai, 30 diantaranya menyatakan bahwa telepon seluler digunakan sebagai media komunikasi, dan 1 siswa menyatakan telepon seluler adalah teknologi untuk mengikuti perkembangan zaman, serta tidak ada siswa yang manyatakan telepon seluler untuk suatu ajang untuk gengsi.“Semakin seseorang memilki kepentingan dengan penggunaan telepon seluler, maka disaat itu pula, pengguna dapat terkena radiasi telepon seluler, terutama melihat pentingnya telepon seluler pada saat ini, yaitu untuk berkomunikasi.”
                Tidak pernah ada manusia yang tidak pernah berkomunikasi, baik melalui verbal maupun non-verbal.  Komunikasi tak bisa dilepaskan dari hidup manusia. Menurut Mugniesyah (2010) sesuai dengan perkembangan model komunikasi transaksional Schramm maka komunikasi saat ini berlangsung setara dan menampilkan fungsi yang sama (identik), yaitu: menyandikan (encoding), menerjemahkan (decoding), dan menginterpretasikan (interpreter). Singkatnya, fungsi encoding (penyandi pesan) serupa dengan fungsi mentransmisikan pesan, sementara fungsi decoding (penerjemahan pesan) setara dengan penerimaan. Jadi, dapat dikatakan komunikasi tidak berujung-pangkal. Untuk mempertemukan para sumber informasi dan penerima informasi maka digunakan teknologi komunikasi. Penggunaan jenis teknologi komunikasi yang tepat yang disesuaikan dengan situasi yang sedang berlangsung akan membuat komunikasi transaksional menjadi lebih efisien dan efektif.


7.      Sejak kapan Anda memiliki telepon seluler ?
NO
JAWABAN
JUMLAH
ANGKA
PRESENTASE
1.
SD
9
29.0  %
2.
SMP
22
71.0 %
3.
SMA
0
0 %
TOTAL
31
100%
           
            Keterangan : Dari 32 siswa, 9 anak menyatakan telah memilki telepon seluler sejak duduk di bangku SD, dan 22 anak memilki telepon seluler sejak SMP, serta tidak ada  anak yang memilki telepon seluler saat SMA. “Semakin dini seorang anak telah menggunakan telepon seluler, maka resiko terkena radiasi akan semakin besar, karena pemakaiannya yang sangat lama.”
            “Anak-anak seharusnya tidak diperlakukan seperti kelinci percobaan. Ponsel bagi  anak-anak  mengandung  bahaya  sama  dengan  jika  kita  membiarkan mereka berada di bawah terik matahari,”. Orangtua  harus berpikir dua kali sebelum memenuhi  permintaan  anaknya yang masih duduk di sekolah dasar memiliki telepon genggam. Sebab menurut sebuah penelitian, menggunakan  telepon  genggam  sejak  dini mempunyai risiko jangka panjang untuk kesehatan mereka. Anak-anak lebih rentan terhadap kerusakan karena jaringan pada tubuh dan otak mereka masih berkembang dengan pesat. Kerusakan yang terjadi terhadap genetic dalam pertumbuhan sel dapat mengakibatkan  gangguan fungsi seluler, kematian sel, Tumor yang berkembang, dan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dan syaraf. Ditemukan bahwa dengan hanya menelepon dalam waktu 2 menit  dapat membuka “penutup darah ke otak” pada anak–anak ataupun dewasa, kemudian toksin masuk ke aliran darah dengan melewati pembuluh darah ini menuju tengkorak kepala dan menyerang  sel–sel otak. Hal ini juga akan mengganggu aktivitas elektrik alami pada otak anak sampai lebih dari 1 jam setelah menelepon.











BAB V
PENUTUP
5.1.         Kesimpulan
          Telepon genggam atau ponsel adalah alat komunikasi nirkabel yang menggunakangelombang elektromagnetik untuk menyampaikan dan menerima pesan. Energi radiasielektromagnetik ponsel sebenarnya kecil, tetapi untuk interaksi yang dekat dan lama, ponsel dapat memberikan efek yang signifikan. Pengaruh gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel ini masih dalam penelitian. Penelitian sementara menunjukkan bahwa dalam pemakaian jangka pendek, radiasi ponsel tidak berpengaruh pada kesehatan manusia. Tetapi dalam jangka panjang, radiasi ponsel dapat meyebabkan berbagai penyakit, seperti Alzheimer, kerusakan DNA, dan tumor otak.
5.2.            Saran
            Meskipun efek radiasi ponsel masih dalam penelitian, ada baiknya kita mencegahdan mengurangi dampak radiasi ponsel. Kita dapat meminimalisasi pengaruh radiasi ponsel dengan cara mengurangi pemakaian ponsel dan kontak langsung dengan ponsel.Kita juga dapat menggunakan ponsel yang memancarkan sedikit radiasi. Perusahaan ponsel hendaknya tidak memproduksi ponsel dengan banyak radiasi lagi.












DAFTAR PUSTAKA

www.en.wikipedia.org/wiki/Mobile _phone-radiation_and_health



0 komentar:

Posting Komentar